Dua Sosok ‘Orang Tua’ Pejuang HAM Papua

897

Dua orang pejuang hak asasi manusia bertemu sesudah pemberian penghargaan Yap Thiam Hien award di Jakarta. Pastor John Djonga mendapatkan penghargaan pada 10 Desember 2009. Ia diberikan dalam suatu upacara megah di Hotel Borobudur, Jakarta.

Yosepha Alomang mendapat penghargaan ini pada Desember 1999. Dia minta penghargaan tersebut diserahkan di Jayapura, bukan di Jakarta. Hadiah untuk Mama Yosepha diserahkan oleh Presiden Abdurrahman Wahid di Jayapura. Mama Yosepha mengatur 85 warga Timika datang ke Jayapura.

Pastor John dan Mama Yosepha bukan kenalan baru. Pastor John pernah bekerja di Timika, bahu-membahu dengan Mama Yosepha, melawan berbagai macam pelanggaran yang dilakukan oleh aparat negara Indonesia. Baik lewat militer, pemerintahan maupun PT Freeport Indonesia.

Djonga kelahiran Manggarai, Pulau Flores, pada 1958. Dia ditawari bekerja di Papua pada 1986. Mula-mula bertugas di Lembah Baliem, lantas Timika dan belakangan Keerom. Mama Yosepha kelahiran kampung Tsinga, sekarang lokasi penambangan Freeport, pada 1940an.

Riwayat Mama Yosepha sudah dibukukan Yosepha Alomang: Pergulatan Seorang Perempuan Papua Melawan Penindasan karya Benny Giay & Yafet Kambai terbitan Elsham (2003).

“Saya mulai mengenal Pater John sekitar tahun 1994 di Timika. Sejak tahun ini Pater John tugas di Timika, di daerah suku Kamoro juga Amungme. Barangkali Pater John juga mendengar pengalaman kami melawan ketidakadilan dan kejahatan sehingga dia mulai mengerti apa yang kami, mama-mama, lakukan.”

Mama Yosepha pernah ditahan lebih dari 10 kali. Pada 1994, dia dituduh membantu Kelly Kwalik, seorang pemimpin Tentara Pembebasan Nasional/Organisasi Papua Merdeka. Kelly Kwalik, kakak ipar Yosepha, titip uang Rp 1.5 juta dan minta dibelikan barang-barang.

Mama Yosepha membelikan pakaian, jarum, benang jahit dan jaring ikan. Bersama satu mama dan empat gadis Amungme, mereka membelikan keperluan Kelly Kwalik dan mengantar ke hutan.

Namun mereka diketahui oleh intel. Mama Yuliana dan Mama Yosepha ditahan di Polsek Timika. Di belakang Polsek Timika ada WC yang dipenuhi kotoran manusia. Mereka ditahan dalam WC berisi kotoran manusia selama satu bulan. Makanan dilemparkan ke dalam serta jatuh ke air penuh kotoran manusia dan air kencing. Mereka terpaksa makan makanan tersebut.

“Orang Indonesia anggap kami orang Papua itu bukan manusia. Orang Papua itu orang Indonesia punya makanan. Dalam pikiran orang Indonesia, orang Papua mahluk yang tidak punya perasaan, pengalaman, adat dan budaya dan tidak punya akal.”

“… kami orang Papua terus-menerus mati dibunuh lalu dibuang seperti tikus atau binatang di parit, atau di kolam, rawa-rawa dan di jurang; atau di kakus atau WC yang Indonesia buat di Tanah Papua. Tindakan pemerintah Indonesia selama ini menyebabkan kami orang Papua mati di penjara-penjara atau sel kecil di Papua, kami makan tidur di atas kami punya kotoran dan air kencing.”

Ketika Mama Yosepha menerima Yap Thiam Hien award, Pastor John menciptakan pusisi Doa Anak Telanjang. Puisi tersebut lantas sering dibacakan di Papua. Sepuluh tahun sesudahnya, puisi Doa Anak Telanjang dibacakan lagi di hadapan Pastor John sendiri, yang juga menerima Yap Thiam Hien award.

Yap Thiam Hien Award adalah penghargaan bidang hak asasi manusia, yang pertama di Indonesia. Ia diselenggarakan sejak 1992. Yap Thiam Hien (1913-1989) sendiri seorang Tionghoa kelahiran Kutaraja, Aceh. Dia dikenal sebagai pengacara yang berani, teguh membela keadilan. Yap ikut mendirikan Lembaga Bantuan Hukum di Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here