Yuruf : Kampung Yang Terlupakan dan Memprihatinkan

Features, News
Anum Siregar Bersama salah seorang warga Yuruf

Yuruf-Yuruf adalah salah satu kampung tua yang memiliki keunikan tersendiri. Yuruf terletak di distrik Web kabupaten Keerom,sedangkan ibukota distriknya ada di Ubrub.  Di Yuruf ada 3 kampung besar yakni Yuruf(Yuruf Satu dan Yuruf Dua), Amgotro( Amgotro Satu dan Amogtro Dua) dan Akrienda. Sedangkan Semografi adalah kampung terjauh yang dimiliki distrik Web,ditempuh sehari dari Yuruf atau 6 jam dari Ubrub dengan berjalan kaki.

Perjalanan darat dari Ibukota Kab Keerom,Arso Kota ke Yuruf ditempuh sekitar 4-5 jam tergantung kondisi jalan,pada musim hujan,kadang mobil harus bermalam di jalan.Biaya carter mobil berkisar antara 2- 3 juta sekali jalan dan tidak mudah untuk mendapatkan mobil yang bersedia sampai di Yuruf apalagi Ubrub.

Letak Ubrub lebih jauh ke tengah hutan dan untuk sampai ke sana dari Yuruf harus menempuh perjalanan darat sekitar  45 menit dalam kondisi jalan yang jauh lebih parah daripada Arso ke Yuruf. Sesekali masih ada yang menggunakan pesawat carteran dengan tarif belasan juta rupiah dari Sentani ke Yuruf atau Ubrub,jarak antara Yuruf ke Ubrub dengan pesawat udara hanya ditempuh sekitar 5 menit.Tentu saja dengan transportasi darat,biaya dari Arso kota ke Ubrub jauh lebih mahal sekitar 4-7 juta sekali jalan.

Meskipun pemukiman penduduk distrik Web terbanyak di sekitar Yuruf tapi ibukota distrik Web ada di Ubrub.Maka di Ubrub ada kantor distrik,Puskesmas, Koramil, Polsek,1 Kompi TNI penugasan dan 1 pos Kopasus sedangkan di Yuruf hanya ada pos TNI  penugasan,kini dari Yonif 122/TS.

Masyarakat asli di Yuruf berada di sekitar desa Yuruf yang kini terdiri dari kampung Yuruf Satu dan Yuruf Dua namun tetap dengan satu kepala desa berjumlah 63 KK(Kepala Keluarga).Sedangkan masyarakat di kampung Amgotro(Amgotro Satu dan Dua berjumlah sekitar 150 KK dan ada sekitar 30 KK di kampung Akrienda berasal dari dusun tua Tuhonda yang diyakini oleh mereka bukan asli orang Yuruf.”Kami pendatang di sini,”ujar orang-orang Amgotro.(05/04/2012).

Kedengarannya aneh ketika mereka acap kali menyebut’pendatang’ tapi mereka seperti sangat memahami kondisi tersebut.Orang Amgotro tidak memiliki kebun atau dusun yang luas untuk menanam bahkan beberapa diantara mereka turun ke Arso atau Lereh menjadi buruh proyek atau kerja di perkebunan kelapa sawit.

Baik di kampung Yuruf,Amgotro apalagi Akrienda kehidupan masyarakatnya sangat memprihatinkan.Rumah-rumah mereka masih rumah pertama yang dibangun sejak mereka pulang mengungsi atau membuka pemukiman.Rumah panggung dari kayu yang dibangun tahun 80an,masa pemerintah Gubernur Bas Suebu,kini sudah sangat rapuh.Beberapa lantai dasarnya sudah rusak tak jarang jika berjalan di atasnya terasa goyang.

Meskipun di Era Otsus begitu banyak dana yang katanya turun ke kampung namun tidak ada tanda-tanda ada penambahan atau perubahan phisik di sekitar kampung kecuali jalan utama antar kampung yang sudah dilakukan pengerasan,konon pembuatan jalan tersebut dari dana APBD Kab Keerom dan bukan dari dana-dana yang turun langsung ke kampung seperti dana BK3.

Jika ditanya ke masyarakat,kemana dana-dana yang katanya sangat banyak turun ke kampung,Mama Uropkulin mengatakan,”Tidak Tahu, tanya sama bos-bos,kami tetap begini,rumah kami tetap seperti ini,”katanya tanpa rasa marah dan tetap memandang ke depan dari atas teras kayu rumah tuanya.(Tim/AlDP).

Silahkan mengisi komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Bagian yang wajib diisi *

*