Berita

Warga Terganggu Banyak Jalan Rusak di Mindiptana

Truk pengangkut bahan makanan nyaris terbalik di ruas jalan Merauke - Boven Digoel

Boven Digoel – Mindiptana sebagai distrik tertua di Boven Digoel, ternyata masih tertinggal soal prasarana umum. Misalnya saja jalan sebagai akses warga melakukan ativitas sehari-hari.

“Di Mindiptana, jalan antar kampung sudah banyak rusak berat. Hanya ada beberapa saja yang beraspal. Sykurnya karena ada enam kilo pembangunan jalan dari Mindiptana ke Kampung Tinggam,” kata Fransiskus Komon, Kepala Distrik Mindiptana, kemarin.

Menurutnya, jalan rusak beresiko pada menurunnya tingkat perekonomian masyarakat. Uang tidak beredar dan penyaluran barang kebutuhan pokok tersendat. “Mau angkut bagaimana, jalan rusak begitu, bisa dibawa tapi harus menunggu jalan kering. Ini menyebabkan dari tahun ke tahun warga tidak berkembang,” ujarnya.

Kondisi jalan rusak terlihat dari Mindiptana ke Kampung Imko. Melewati Distrik Sesnuk, jalan utama juga belum beraspal. Dari Simpang Sesnuk ke Distrik Kombut, hanya ada dua kilo jalan aspal. “Selebihnya lumpur kalau hujan, saya itu heran, jalan dibangun setengah setengah, dua kilo aspal, sepuluh kilo lumpur, saya tidak mengerti,” ucapnya.

Dalam Kota Mindiptana sendiri, sepanjang 10 km jalan tengah direhabilitasi. Pemerintah menganggarkan dana tidak sedikit untuk membangun fasilitas jalan di daerah itu. “Kita berharap pihak ketiga yang mengerjakan, benar-benar serius, kasihan masyarakat, mereka untungnya besar, sementara kita sebagai pengguna jalan tidak merasakan kenyamanan,” katanya.

Distrik Mindiptana dapat dijangkau dari Tanah Merah, ibu kota Boven Digoel menggunakan kendaraan roda empat atau dua. Jaraknya ± 75 km. Daerah ini merupakan pusat penyebaran agama Katolik di suku Muyu dan Mandobo.

Mindiptana dikenal juga sebagai penghasil karet di Papua. Terletak sebelah utara berbatasan dengan Distrik Iniyandit, Sebelah selatan Kombut, Sebelah timur Distrik Jair dan Sebelah Barat Distrik Waropko. “Kita belum ada data resmi berapa jumlah penduduk, kita masih mengumpulkan data, kalau berdasarkan data tahun lalu, jumlahnya sudah lebih dari lima ribu jiwa, itu di Kota Mindiptana,” kata Komon.

Andy Moromon, warga Tanah Merah mengatakan, akses jalan begitu buruk, bukan hal baru di Boven Digoel. “Dari dulu sebelum daerah ini dimekarkan dari Merauke, sudah parah. Sekarang Boven umurnya sepuluh tahun, dalam kota Tanah Merah saja beraspal, tapi kalau ke kampung-kampung, rusak berat.”

Tingkat kejenuhan warga melihat jalan rusak tak lagi bisa diukur. “Sudah bosan, pemerintah tidak jalan, perekonomian macet, bupati di penjara, dan sebagian besar pejabat bekerja untuk diri sendiri, kita masyarakat marah melihat ini,” katanya.

Kabupaten Boven Digoel dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002. hasil pemekaran dari Kabupaten Merauke. Selain Boven, dimekarkan secara bersamaan pula sejumlah kabupaten lain di bagian selatan, yakni Asmat dan Mappi. (02/ALDP)