Warga Raimbawi Membutuhkan Jalan Darat

Ilustrasi

Yapen – Berbagai kesulitan dirasakan oleh warga yang tinggal di bagian Utara Pulau Yapen. Distrik-distrik di bagian Utara ulai dari Barat ke Timur yaitu Poom, Windesi, Yapen Utara dan Raimbawi.Seperti distrik Raimbawi yang harus ditempuh sekitar 6-8 jam dengan menggunakan perahu motor dari ibu kota Serui.

Sebelumnya pernah dibangun jalan darat ditahun 2008 dengan konsep padat karya dari kampung Waindu ke Sewenui namun sekarang jalan sudah kembali tertutup rumput karena tidak dirawat.

Selain itu ada jalan trans, dibangun dari perusahaan Dawai ke kampung Woda. Namun kini setelah jembatan rusak maka sudah tidak ada lagi mobil yang melayani dari Yapen Timur hingga ke Raimbawi.

“Dulu warga dari Dawai baik itu warga umum maupun karyawan perusahaan Playwood sering berlibur kemari untuk sekedar menikmati keindahan pantai Lori. Namun karena jembatan sudah rusak sehingga tidak ada lagi yang datang kemari,” kata Urbanus. R salah satu warga di kampung Kororompui.(09/07/2012).

Jalan yang ada digunakan juga untuk para penjual dari Raimbawi ke Dawai maupun ke Serui. Katanya, ”sekarang kami terpaksa melalui laut jika akan berjualan dan ini memakan waktu serta dana,” tambahnya.

Akibatnya warga dari Raimbawi sering berjualan ke Biak(kabupaten lain) karena jaraknya yang hanya 3 jam lebih perjalanan dibandingkan ke Serui(ibu kota kabupaten) yang bisa mencapai 6-8 jam.

Menurut seorang warga, Yohanis Injoroweri kesulitan transportasi juga berpengaruh terhadap harga BBM. Warga Raimbawi sering beli bensin ke Dawai atau Serui dengan harga Rp 8.000/liter, di kampung dijual dengan harga Rp 10.000/liter hingga lebih. Jika bensin sulit maka harga bensin bisa mencapai Rp 20.000/liter.

“Padahal warga pada umumnya disini menggunakan sarana transportasi laut yang menggunakan bahan bakar bensin Akibatnya kadang kami kesulitan melakukan aktifitas karena keterbatasan bensin”. Masyarakat berharap ada depot BBM di Raimbawi untuk mengatasi kebutuhan BBM warga Raimbawi. .(04/AIDP)