Tradisi Wam dan Semangat Pengorbanan
Bandara Teluk Bintuni

Tradisi Wam dan Semangat Pengorbanan

Wamena-Sejak dulu hewan babi merupakan salah satu simbol adat yang kuat untuk masyarakat adat di sekitar daerah pegunungan, terlebih lagi di Wamena, Jayawijaya. Babi atau biasa disebut Wam,  digunakan dan menjadi symbol utama mulai dari pesta pernikahan, penyelesaian perselisihan hingga pesta duka. Apapun bentuk acaranya, masyarakat akan berusaha untuk  menyiapkan wam sebagai symbol (hidangan) utama.

Wam sebagai simbol adat  dan simbol prestise makin sulit untuk dipisahkan. Makin banyak wam yang dikorbankan pada satu acara maka acara itu makin terlihat luar biasa, entah itu untuk pernikahan, penyelesaian perselisihan, pesta duka, peresmian gereja, nikah adat atau acara apa saja. Banyaknya wam menjadi ukuran dan perbincangan utama.

Wam bukan saja disediakan oleh pihak yang membuat ucara tapi pihak tertentu yang diundangpun kadang ‘malu atau merasa tidak pantas’ jika datang tanpa membawa wam.  Apalagi tradisi saling menyumbang dan gotong royong memang sangat subur di Wamena.

Dalam satu pesta nikah adat di distrik Asolokobal pada Oktober 2012, misalnya, seorang pemuda yang melangsungkan acara pernikahan ‘sederhana’ di kampungnya, memotong belasan ekor Wam untuk makan bersama. Belum termasuk wam yang akan dikorbankan saat menyelenggarakan pesta nikah sejenis di keluarga pihak istri. Saat itu tidak semua Wam dipotong, ditinggalkan seekor yang masih hidup sebagai wam adat untuk dipelihara.

Demikian juga saat peresmian gereja katholik di Walesi pada akhir desember lalu. Ada sekitar 115 ekor Wam yang dipotong dalam perayaan tersebut. Seminggu sebelumnya masyarakat sudah membuat lubang-lubang dan menyiapkan kayu untuk acara bakar batu. Beberapa kampung tetangga juga menyiapkan wam sebagai sumbangan dan tanda turut merasakan suka cita mereka.

Harga Wam di Wamena, seekor antara 14 juta – 25 juta. Jika saja dirata-ratakan harga Wam sekitar 20 juta/ekor maka pada peresmian gereja di Walesi itu menghabiskan sekitar  2 milyar lebih untuk beli Wam.

Mengapa Wam dibeli? Sebab kini orang asli Wamena tidak memelihara Wam seperti dulu lagi,  masih tersisa pada orang-orang tertentu saja. Sehingga wam didapat dengan cara membeli dari pedagang atau peternak Wam, orang non Papua yang tinggal di sekitar Wamena kota. Bahkan ada wam sengaja dibeli/didatangkan dari Jayapura dengan menggunakan pesawat udara. Harga wam di Jayapura jauh lebih murah daripada di Wamena meskipun sudah ditambah biaya angkut.

Salah satu penyebab utama orang tidak lagi memelihara wam seiring dengan pengaruh masuknya Otsus ke Papua, khususnya Wamena.

“Orang mulai malas berkebun dan memelihara babi,” demikian ujar Pastor Jhon Jonga Pr. Menurutnya orang dewasa terutama laki-lakinya, pada pagi hari lebih sering ‘turun’ ke kota Wamena dari kampung-kampung mereka.

“Mereka tidak setia lagi memelihara Wam, padahal sangat mudah memelihara Wam. Berkebunpun tidak seperti dulu lagi. Kini terlihat banyak lahan subur yang kosong, di pinggir-pinggir jalan, tidak seperti saya ke Wamena pertama kali dulu, ” katanya sedih.

Darimana mendapatkan uang untuk membeli Wam?. Jika ada acara maka biasanya masyarakat saling menyumbang untuk membeli wam. Sumbangan terbanyak datang dari kelompok perempuan. Sebab perempuan bekerja di kebun sejak pagi hari, menjual hasilnya ke kota dan sebagian disumbangkan untuk kepentingan bersama di komunitasnya.

Kadang juga biaya untuk membeli Wam berasal dari dana-dana bantuan pemerintah, demikian pengakuan seorang sekretaris kampung. Ada anggapan dari masyarakat bahwa dana tersebut dapat digunakan untuk membeli Wam karena untuk kepentingan bersama warga di kampung tersebut. Selain itu Wam berasal dari sumbangan  pihak lain atau dari pemerintah.

Sekalipun wam berasal sumbangan, wam tetap dibeli. Wam masih menjadi tradisi utama dalam adat di masyarakat Wamena, maka masyarakat seharusnya kembali semangat untuk beternak Wam. Jika tidak, maka uang yang sebenarnya untuk pemenuhan kebutuhan hidup yang utama termasuk untuk sekolah anak-anak akan terpakai.

Secara khusus pastor Jhon Jonga Pr menaruh keprihatinan yang mendalam pada mama-mama Wamena yang bekerja luar biasa mulai dari pagi hingga sore hari. Berkebun dan berjualan setiap hari tapi uangnya terpakai untuk beli wam.

“Di sini acara tidak berhenti, kebutuhan wam terus ada. Jadi harus beternak wam kembali,” demikian Pastor Jhon Jonga Pr menjelaskan dihadapan masyarakat di Kurima, kabupaten Yahokimo pada akhir desember 2012.(Tim/AlDP).