Berita

TNI Masih ‘Berulah’ di Keerom

Jayapura – Oknum anggota TNI terus saja ‘berulah’ di Kabupaten Keerom. Tiap pergantian tentara di daerah itu, pasti meninggalkan jejak negatif yang sulit dihapus.

“Dan itu terjadi, ada satu cerita, saat tentara hendak meninggalkan satu tempat, mereka menjual kasur pada warga lokal, harganya satu juta. Setelah dipakai berapa lama, tiba-tiba datang tentara penugasan lain, mereka meminta kasur itu, katanya itu bukan barang dijual. Karena takut diintimidasi, warga mengembalikannya, tapi tentara itu langsung pergi tanpa membayar,” kata Pastor John Djonga, penerima penghargaan Yap Thiam Hien Award 2009, Sabtu lalu.

Ia mengatakan, kisah kepergian tentara yang meninggalkan kesan miring, berlangsung sejak belasan tahun lalu. Dibanyak tempat, tentara belum dapat menegakkan sumpah prajurit untuk melindungi masyarakat. “Sebaliknya mereka menciptakan rasa takut. Herannya lagi adalah, pemerintah hanya melihat soal situasi keamanan, tentara diturunkan dalam jumlah besar, tapi untuk mendatangkan beberapa petugas kesehatan dan guru, sangat sulit,” ujarnya.

John Djonga juga mempertanyakan, pos militer begitu banyak di wilayah Orang Asli Papua. “Mengapa isu keamanan menjadi paling penting bagi negera, dibandingkan masalah lain,” katanya.

Cypri. J. P. Dale, penulis buku Paradoks Papua bersama John Djonga mengatakan, ada ketidakadilan sosial yang sistemik sebagai akibat dari struktur-struktur politik, ekonomi, sosial dan budaya di Keerom. “Contoh misalnya, pengalihan Ibukota Kabupaten yang dengan sengaja melanggar Undang-Undang adalah hasil dari proses dan keputusan politik yang sengaja. Dampaknya ternyata menciptakan ketidakadilan yang dasyat di segala bidang. Kehadiran aparat militer yang berlebihan di wilayah OAP juga memberi dampak pada kondisi  dan perkembangan kehidupan mereka,” kata Cypri.

Yang dibutuhkan orang Papua, kata Cypri, bukan hanya rekognisi (pengakuan), tetapi juga redistribusi pembangunan agar merata.

Thaha Alhamid, tokoh Papua menyebut isu miring tentara sebagai sesuatu yang biasa. “Itu sudah biasa, dulu, kepergian tentara selalu ditandai dengan uang koperasi habis, uang itu milik masyarakat yang dikumpul, tapi oknum TNI selalu meminjamnya tanpa dikembalikan,” ucapnya. (02/AlDP)

  • Pejabat Papua

    Tentara yang begitu dipecat saja..bikin malu,,,