Tindakan Anggota TNI ,Meresahkan Warga Web

Web-Di Distrik Web selalu ada cerita menarik menjelang pergantian Pos TNI sebagaimana yang terjadi pada akhir tahun lalu.Sepintas terlihat masyarakat Web cukup tenang dengan kehadiran pos TNI yang datang silih berganti namun perlahan-lahan satu persatu masyarakat menceritakan pengalaman buruk dan kekhawatiran mereka atas kehadiran pos TNI.
Seorang warga Web menceritakan sebelumnya seorang anggota pos TNI menjual 2 buah kasur kepada mereka namun sehari menjelang pergantian Pos pada akhir desember 2011, Dan Pos mendatangi rumah mereka dan meminta kembali kasur tersebut,katanya anak buahnya tidak mengetahui kalau kasur tersebut tidak boleh dijual.
“Padahal kami sudah pakai berbulan-bulan,kami beli satu dengan harga Rp.500 ribu,setelah itu kami kasih kasurnya dan mereka tidak kembalikan uangnya,” Ujar warga tersebut.(07/04/2012).
Warga lainnya bercerita bahwa menjelang pergantian pasukan pos TNI akhir tahun 2011, anggota pos yang akan berangkat menjual beberapa perabotan rumah dan dapur kepada mereka seperti  wajan,selang air dan galon penampungan air.
Lalu oleh anggota pos yang baru menggantikan,awal tahun 2012 mereka mendatangi rumah warga tersebut kemudian meminta barang-barang tersebut untuk dikembalikan tanpa mengganti uang warga masyarakat yang sudah dibayarkan terlebih dahulu kepada anggota pos TNI sebelumnya.
Menurut masyarakat,mereka kesal dengan cara-cara anggota pos TNI seperti itu,kesannya bahwa masyarakat punya banyak uang dari dana BK3. Namun masyarakat  tidak bisa menuntut sebab khawatir kalau mereka bicara akan mendapat intimidasi dan dicap sebagai separatis.
Menurut mereka kehadiran pos TNI seringkali menimbulkan rasa takut,kadang masyarakat ditanya soal OPM atau apakah ada yang menyembunyikan senjata.Kemudian muncul isu akan ada pengibaran bendera sehingga anggota pos TNI  masuk keluar kampung.
Pastor Paroki Santa Maria Bunda Allah Yuruf Amgotro,Konradus Ngudar,OSA pernah mendatangi pos TNI, menyampaikan keberatannya atas dilakukannya patroli masuk keluar kampung.”Waktu itu saya sarankan kepada Dan Pos bahwa kalau ada isu-isu sebaiknya kita tokoh agama,pemerintah,TNI dan tokoh masyarakat duduk membahasnya jangan langsung masuk keluar kampung,masyarakat menjadi takut,”jelasnya.
Masyarakat yang sehari-hari bekerja di kebun,berharap mereka tidak di cap sebagai separatis,”Daerah kami aman,kehadiran pos membatasi kebebasan kami bekerja,”ujar mereka. Mereka berharap pos datang untuk melindungi masyarakat dan bukan membuat masyarakat menjadi takut.(Tim/AlDP)