Tidak ada OPM di Timika

Timika – Keberadaan Organisasi Papua Merdeka di Kabupaten Mimika, Papua, dianggap hanya merupakan isu isapan jempol belaka. OPM tidak seperti yang diduga melakukan penembakan di sekitar areal PT Freeport Indonesia.

“Tidak ada OPM, yang ada hanyalah milisi dan lain-lain,” kata Cahyono, peserta Forum Kajian Indikator Papua Tanah Damai yang digelar Aliansi Demokrasi untuk Papua dan Jaringan Damai Papua di Timika, Selasa kemarin.

Ia mengatakan, kekerasan di Kabupaten Mimika mulai terjadi memasuki tahun 2000an. Sebelumnya, warga hidup rukun, damai tanpa perselisihan. Kekerasan disebabkan oleh hal-hal kecil yang tidak dapat diselesaikan menurut aturan adat atau hukum formal. “Ini baru saja, dulu itu tidak ada,” ujarnya.

Saleh, peserta forum menambahkan, kekerasan bersenjata dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. “Saya mau bilang, yang pegang senjata itu hanya ada Polisi, TNI dan gerakan pengacau, jadi kalau ada penembakan, kita lihat saja siapa yang punya senjata,” katanya.

Menghadapi berbagai masalah di Timika, yang terpenting adalah bagaimana mendekati titik persamaan. “Kita sering kali mencari titik persamaan hanya diantara internal paguyuban saja atau sesama agama, tapi sulit mencari titik persamaan sebagai sesama manusia,” kata Dr. Muridan Satrio Widjojo, salah satu koordinator Jaringan Damai Papua (JDP).

“Jadi untuk membangun perdamaian, kita harus melompot dari kesamaan primordial dan saling melihat sebagai manusia,” tegas Muridan.

Menurut dia, harus ada pondasi perdamaian di kalangan masyarakat sipil dengan saling terbuka dan terus menerus diantara Papua dan pendatang sebagai masyarakat sipil. “Terus terang segregasi atau keterpisahan antara oang Papua dan pendatang itu sangat lebar. Berapa lama dalam seminggu kita melakukan interaksi lintas suku dan agama? Sangat sedikit,” ucapnya. (tim/AlDP)