Tidak Ada Anak Usia Sekolah di Sewenui

Anak-anak Sekolah Satu Atap Seweruni

Serui – Deky Runtuboi salah satu guru yang bertugas di SD Paparu kampung Sewenui distrik Raimbawi kabupaten Kepulauan Yapen mengatakan di tahun ini pendaftaran siswa baru dari kampung Sewenui tidak ada. “Hal ini dikarenakan siswa yang berumur 6 tahun sudah masuk sekolah dari ajaran tahun lalu”.

Maka hanya anak-anak dari kampung Kororompui khususnya RK IV yaitu Saweri yang mendaftar.  “Kalau tidak ada siswa dari Kororompui maka tahun ini sekolah bisa-bisa tidak ada siswa baru lagi,” katanya.

Sedikitnya anak usia sekolah di kampung-kampung sekitar Sewenui, Kororompui dan kampung sekitarnya terkait dengan banyaknya arus urbanisasi ke kota, orang-orang  memilih meninggalkan kampungnya ke kota Serui, Biak atau Jayapura.

Selain itu akibat dari populasi penduduk yang berjalan lambat karena makin berkurangnya pernikahan di usia dini. “ Banyak orang merantau ke kota dan menempuh pendidikan lebih tinggi sehingga memperlambat proses regenerasi,” Ujar kepala kampung Sewenui Harman Runabari ketika di hubungi AlDP Online pekan lalu.

Menurutnya banyak anak dari kampung yang mulai melanjutkan pendidikan ke SLTA di luar kampung dan mereka belum mau berkeluarga dahulu.” Berbeda dengan kondisi dahulu dimana anak yang baru lulus SMP atau malah belum lulus sudah kawin sehingga setiap tahun selalu ada generasi di kampung. Sekarang jadi terasa lamban,” katanya. (04/AIDP)

Serui – Deky Runtuboi salah satu guru yang bertugas di SD Paparu kampung Sewenui distrik Raimbawi kabupaten Kepulauan Yapen mengatakan di tahun ini pendaftaran siswa baru dari kampung Sewenui tidak ada. “Hal ini dikarenakan siswa yang berumur 6 tahun sudah masuk sekolah dari ajaran tahun lalu”.

 

Maka hanya anak-anak dari kampung Kororompui khususnya RK IV yaitu Saweri yang mendaftar.  “Kalau tidak ada siswa dari Kororompui maka tahun ini sekolah bisa-bisa tidak ada siswa baru lagi,” katanya.

 

Sedikitnya anak usia sekolah di kampung-kampung sekitar Sewenui, Kororompui dan kampung sekitarnya terkait dengan banyaknya arus urbanisasi ke kota, orang-orang  memilih meninggalkan kampungnya ke kota Serui, Biak atau Jayapura.

 

Selain itu akibat dari populasi penduduk yang berjalan lambat karena makin berkurangnya pernikahan di usia dini. “ Banyak orang merantau ke kota dan menempuh pendidikan lebih tinggi sehingga memperlambat proses regenerasi,” Ujar kepala kampung Sewenui Harman Runabari ketika di hubungi AlDP Online pekan lalu.

 

Menurutnya banyak anak dari kampung yang mulai melanjutkan pendidikan ke SLTA di luar kampung dan mereka belum mau berkeluarga dahulu.” Berbeda dengan kondisi dahulu dimana anak yang baru lulus SMP atau malah belum lulus sudah kawin sehingga setiap tahun selalu ada generasi di kampung. Sekarang jadi terasa lamban,” katanya. (04/AIDP)