Terus Ditebang, Hutan Waris dan Senggi Mulai Habis

Terus Ditebang, Hutan Waris dan Senggi Mulai Habis

Keerom – Hutan kayu di Distrik Waris dan Senggi, Kabupaten Keerom, tiap menit dibabat tanpa ampun. Hasil tebangan ditebar ditepi jalan menunggu angkutan ke Kota Jayapura.

Untuk mendapatkan areal penebangan, pengusaha cukup mendatangi sang pemilik ulayat. Menegosiasikan luas lokasi dan harga kayu perkubik, selanjutnya meneken perjanjian dibawah tangan. Proses berikutnya; eksploitasi hutan.

Pada minggu pertama operasi, biasanya diawali dengan membersihkan atau membuat jalan masuk. Seukuran ban motor atau sepeda. Lalu, membuat camp atau tempat tinggal, mendatangkan tenaga dan alat-alat, dan terakhir menyensor kayu.

Luas lokasi tebangan sekitar dua sampai tiga kilometer. Diukur dari pinggir jalan utama. Dengan luas demikian, waktu operasi bisa mencapai tiga bulan kerja.

Jumlah truk pengangkut kayu di sebuah lokasi bervariasi. Sekitar 5-10 truk dalam sehari. Saking banyaknya lokasi, hampir tidak putus-putusnya truk masuk keluar Waris dan Senggi.

Truk-truk pengangkut selalu jalan beriringan. Pertama karena medan ditempuh amat berat sehingga membutuhkan kerjasama bila ada yang mengalami masalah. Kedua, untuk menghindari pungli berlebihan dari oknum aparat.

Dengan jumlah truk hingga belasan, pengemudi berharap dapat ‘mengatur’ seminimal mungkin tip untuk petugas.

Menghindari Penggundulan
Eksploitasi hutan tidak selamanya berjalan baku. Di saat tidak memungkinkan, pengusaha dapat saja mengambil keputusan mengakhiri ‘perjanjian penebangan’. Alasannya, karena jalan masuk menuju tempat pengambilan kayu terlalu jauh dan butuh biaya lebih besar.

Alih-alih menghentikan perusakan hutan, pengusaha kembali mencari lokasi baru. Di Kampung Pompai yang tidak begitu luas, setidaknya ada empat pemilik hak ulayat telah memberikan lokasi mereka untuk pengusaha kayu.

Kayu potongan di Waris atau Senggi terdiri dari beragam ukuran dan jenis. Untuk kayu besi misalnya, tahun lalu dihargai sebesar Rp.500 ribu/kubik. Sebelumnya hanya berkisar Rp.300 ribu/kubik. Kayu itu diangkut dengan cara cicil tiap empat kubik.

“Uang yang kami dapat, digunakan untuk kebutuhan makan, sekolah anak dan lainnya. Ada juga yang pakai beli motor,” ujar Kevin Swo, seorang pemegang hak ulayat di Kampung Pompai, Distrik Waris, Jumat lalu.

Menghindari penggundulan hutan, para pemilik hak ulayat memutuskan areal penebangan secara bersama-sama. “Lokasi penebangan searah, sehingga tidak boleh ada di kiri dan kanan jalan,” ucapnya.

Ia berharap ditemukan cara lain agar pengolahan kayu lebih berguna untuk diri dan anak cucunya kelak. “Tentu saya takut kalau hutan kami habis, bagaimana untuk generasi kami nanti,” tambahnya.

Hutan di Kabupaten Keerom mencapai luas 942.157,31 ha (88,04% dari luas kabupaten). Pada tahun 2010, sub-sektor kehutanan mampu menyumbang PDRB Keerom sebesar 8,53 %.

Berdasarkan data pemerintah, hutan Keerom terbagi dalam lima kawasan. Meliputi Hutan Lindung, Hutan Produksi, Hutan Produksi Konversi, Hutan Produksi Terbatas dan kawasan suaka alam. Luas seluruh kawasan hutan tersebut mencapai 841.857 ha (71,51% dari areal berhutan). (Tim/AlDP)