Tarfia Kampung Dengan Fasilitas Lengkap

Jayapura – Sebagaimana kampung atau desa lainnya di Papua, seringkali penyebutan nama kampung dan desa selalu lebih dari satu.  Hal ini biasanya dikarenakan nama-nama yang diberikan oleh adat berbeda dengan nama yang diusulkan oleh pemerintah setempat.

Sama halnya dengan kampung Tarfia atau Tarfi atau secara administrative disebut kampung Kamdera. Beberapa fasilitas pemerintahan menggunakan Kamdera namun masyarakat cenderung menyebut ‘Tarfia”.

Tarfia berisi sekitar 124 KK(kepala Keluarga) atau sekitar 760 jiwa yang terdiri dari 5 marga utama. Hampir tidak ada orang luar kecuali petugas medis, guru sekolah dan penjaga mercusuar, selebihnya orang asli Tarfia.

Tarfia merupakan salah satu kampung dari 7 kampung yang dimiliki oleh distrik Demta di kabupaten Jayapura. Kampung ini terbilang unik dan diyakini sebagai kampung terjauh yang dimiliki oleh orang asli sekitar Demta.

Sebenarnya ada satu kampung lagi yang lebih jauh dari ibukota distrik Demta yakni Muaif. Namun orang Demta menyakini bahwa orang di kampung Muaif merupakan eksodus dari wilayah sekitar Genyem. Sehingga mereka menyebut orang Muaif orang ‘Genyem pantai’.

Masyarakat adat Tarfia memiliki 10 marga yang terbagi menjadi 5 marga utama yakni marga Taurui, Bernifu, Taudufu, Ondi, Fitowin dan Daisiu. Secara umum perkembangan keluarga dan marga sangat terbatas sebab jumlah anak yang dimiliki dalam satu pasangan suami istri relative sedikit. Selain itu hampir tidak terdengar lagi bahasa asli, orang tua selalu menggunakan bahasa Indonesia kepada anak-anak mereka.

Jalur biasa yang digunakan untuk sampai ke Tarfia melalui jalan laut dari demta Kota. Sebelumnya dari Jayapura ke Demta Kota sekitar 3,5 jam kemudian menggunakan motor laut sekitar 20 menit sampai di Tarfia.

Kini jalan darat yang sudah dibangun sejak lama, dapat digunakan kembali sehingga orang yang memiliki angkutan sendiri akan menggunakan jalan darat sekitar 40 menit untuk sampai ke Tarfia dari Demta.

Penduduk Tarfia bermata pencaharian sebagai nelayan. Mencari ikan adalah kebiasaan hampir setiap orang dewasa. Laki-laki dewasa pergi mencari ikan setiap saat pagi, siang atau malam, tergantung ada umpan dan biasanya sampai ke laut luar teluk.

Sedangkan perempuannya lebih memilih pergi menjelang magrib hingga malam setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah. Perempuan hanya memancing di sekitar teluk dengan perahu yang lebih kecil. Hampir setiap rumah memiliki perahu bahkan ada yang lebih dari satu.

Ikan yang didapat bermacam-macam seperti tenggiri, ikan merah, ikan batu-batu maupun udang dan kepiting. Hasil laut sebagian besar hanya untuk dimakan. Ada juga yang dijual ke Demta dan Jayapura. Setelah pengumpul ikan masuk dan menetap beberapa hari di Tarfia, ikan langsung dijual pada mereka.

Di Tarfia ada beberapa kios milik warga setempat yang isinya tidak cukup banyak dan biasanya kios-kios tersebut tidak dapat bertahan lama atau hidup secara kontinyu,pada waktu-waktu-waktu tertentu mati, kemudian terisi kembali atau berganti tentangga lain yang memiliki kios.

Sebagian waktu luang digunakan perempuan Tarfia untuk menganyam aneka perabotan rumah dari bahan pepohonan di sekitar hutan sedangkan laki-lakinya membuat perahu dan ukir-ukiran.

Tarfia merupakan salah satu kampung yang memiliki ‘fasilitas pembangunan’ yang cukup lengkap. Sayangnya hampir semua fasilitas tersebut tidak difungsikan dengan baik. Contohnya Pustu(Puskesmas Pembantu) yang sering tutup dan bangunannya makin tak terawat.

Untuk pendidikan, ada fasilitas PAUD yang pernah mendapat bantuan dari Unicef namun setelah Unicef tidak lagi mendampingi, PAUD itupun berakhir dengan sendirinya.”Tidak ada yang urus lagi,” Ujar Veronika Ondi.

SD YPK yang berdiri tahun 1914 adalah salah satu pelayanan pendidikan yang cukup baik meskipun tidak terlalu mudah untuk memotivasi anak-anak pergi sekolah dan mau belajar serta minimnya dukungan dana untuk menjaga kelangsungan proses belajar mengajar.

Kemudian ada SLTP negeri yang baru dibangun pada tahun 2009. Keberadaan SMP Negeri mengundang polemik sebab dipapan depan SMP tertulis SLTP Negeri Satu Atap,sementara pengelola SD YPPK tidak merasa bahwa SD YPPK satu atap dengan SLTP Negeri.”Tidak ada koordinasi dengan kita, manajemen sekolah juga pisah, mereka punya kepala sekolah sendiri, tidak ada koordinasi dengan kita,” demikian penjelasan Ibu Mery Yoku kepada SD YPK Tarfia.

Sebenarnya kehadiran SLTP Negeri Satu Atap sangat membantu sehingga anak-anak di sekitar kampung Tarfia tidak lagi berperahu sampai ke Demta untuk bisa sekolah.

Di balai kampung ada Jaringan Telepon Umum, sejak pemasangannya pada awal tahun 2012 hingga kini belum pernah digunakan. “Tidak ada yang bisa pakai, jadi alatnya dikasih tinggal begitu saja,” Ujar kepala kampung Tarfia. Kemudian pasar kampung yang dibangun setengah jadi kemudian terbengkalai,”Dana sudah habis” kata masyarakat.

Masyarakat Tarfia sejak 2 tahun lalu sudah dapat menikmati listrik meskipun hanya mulai jam 19.00-24.00 WIT, bukan listrik desa tapi menggunakan listrik dari PLN Genyem yang dipasang diujung kampung. Setiap bulannya masyarakat membayar Rp.15 ribu/rumah ke petugas PLN yang datang menagih. Kadang diputus oleh PLN bila ada tunggakan berbulan-bulan yang cukup besar dari warga.

Hal paling menarik yang dimiliki oleh Tarfia adalah Mercusuar yang dibangun akhir tahun 1990an. Mercusuar yang setinggi 45 meter memiliki 8 lantai, bersih terawat dan di setiap lantainya bersarang burung wallet yang selalu bertebangan ketika pintu mercusuar dibuka. Jika kita sampai dipelatarannya, petugasnya dengan ramah menawarkan,” mau naik,lihat-lihat?”.

Masyarakat dan aparat kampung berargumentasi bahwa tidak difungsikannya berbagai fasilitas yang ada karena tidak ada pendampingan dari pemerintah. “Di kantor bupati, kami sulit bertemu dinas yang bersangkutan, ”Ujar kepala Kampung Tarfia. Padahal untuk sampai ke kantor Bupati dari Tarfia uang yang dikeluarkan tidak sedikit untuk transportasi dan biaya makan di jalan.”Kalau menginap bisa di rumah keluarga”. Dirinya mengaku kadang memberikan uang pelicin agar urusannya bisa lancar. Kepala kampung berharap ada monitoring terhadap pelaksanaan pembangunan di kampungnya.(Tim/AIDP)