Tanggapan atas peristiwa pembakaran Tempat Ibadah di Tolikara

Tanggapan atas peristiwa pembakaran Tempat Ibadah di Tolikara

Pater  Neles Tebay:

Rohaniwan Katolik, Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar  Timur, dan Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP).

Kami menyesalkan atas peristiwa pembakaran tempat ibadah, dan 70 rumah dan kios di Karubaga, Kabupaten Tolikara, yang terjadi pada perayaan Idul Fitri, 17 juli, 2015.

Tindakan pembakaran seperti ini, baik dilakukan secara sengaja atau tanpa direncanakan, tidak dapat diterima dan dibenarkan setiap orang beriman.

Budaya Papua tidak mengajarkan orang untuk mengganggu , apalagi membakar, tempat ibadah.  Tradisi budaya mengajarkan bahwa orang Papua tidak boleh mengganggu tempat-tempat yang dipandang keramat/sakral atau suci menurut budaya setempat. Tempat-tempat suci dalam budaya adalah tempat-tempat yang, menurut keyakinan orang setempat, dihuni oleh roh-roh.

Apabila menganggu tempat suci ini, menurut keyakinan orang Papua, akan ada konsekwensi terhadap dalam hidup keluarga dari orang yang mengganggu tempat tersebut. Konsewensinya bisa saja para pengganggu jatuh sakit, atau salah satu anggota keluarganya meninggal dunia tanpa sakit terlebih dahulu, atau terjadi musibah kelaparan. oleh karena itu, orang Papua dibina untuk sungguh menghormati tempat keramat/sakral dalam budayanya.

Ketika agama-agama besar seperti Kristen dan Islam masuk ke Tanah Papua, tempat ibadah dari agama-agama ini seperti Gereja dan Mesjid, dipandang  sebagai tempat keramat/sacral/suci.

Oleh karena itu orang Papua, entah apapun agamanya, tidak pernah mengganggu, apalagi membakar entah Gereja, entah Mesjid, selama ini. Daun rumput selembar saja tidak pernah diganggu dan dipetik dari halaman Gereja atau Mesjid.

Maka peristiwa pembakaran mushola di Tolikara ini merupakan peristiwa pertama kali  dalam sejarah Papua dimana sebuah tempat ibadah dibakar di tanah Papua. Orang Papua tidak pernah membakar tempat ibadah selama ini, kecuali yang baru terjadi di Tolikara ini.Maka, sebagai orang papua, saya memohon maaf atas peristiwa yang melanggar norma adat ini.

Kami mengakui bahwa peristiwa pembakaran tempat ibadah ini mencederai upaya masyarakat sipil Papua bersama semua pimpinan agama untuk mewujudkan Papua sebagai Tanah Damai.

Peristiwa ini mengingatkan bahwa kampanye Papua Tanah Damai masih terbatas hanya pada tingkat para pimpinan agama-agama. Konsep Papua Tanah Damai  ternyata masih harus dimasyarakatkan hingga di tingkat akar rumput. Rakyat perlu dilibatkan dalam diskusi, refleksi, dan bekerja sama untuk membangun Papua Tanah Damai, sehingga mereka berperanserta dalam mengupayakan dan memelihara perdamaian di tempat masing-masing.

Para Bupati di semua Kabupaten di Provinsi Papua dan Papua Barat perlu memfasilitasi diksusi dan dialog internal Papua tentang Papua Tanah Damai agar semua pihak berpartisipasi dalam memelihara Papua sebagai Tanah Damai.

Tidak ada satu pun pihak yang memuji atas tindakan pembakaran tempat ibadah ini. Tetapi juga tidak perlu langsung menuduh kelompok lain sebagai pelaku pembakaran tanpa didasarkan atas investigasi yang kredibel.

Kami memohon semua pihak untuk menahan diri, dan tidak memanasi situasi.

Kita mendorong polisi untuk melakukan investigasi secepatnya bukan hanya untuk menemukan para pelaku pembakaran tetapi juga menemukan faktor penyebab utama yang memicu pembakaran ini. Dengan mengetahui faktor penyebabnya, kita bisa mencegah agar hal yang tidak terulang lagi di masa depan.

Kami mendorong para pimpian agama di seluruh Tanah Papua untuk secara bersama memelihara perdamaian di bumi cenderawasih.