Tanah Merah Masih Kesulitan Air Bersih

Tanah Merah Masih Kesulitan Air Bersih

Tanah Merah. Boven Digoel

Boven Digoel – Warga Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel, masih kesulitan didalam mendapat air bersih. “Ada air sumur, tapi berwarna, kalau mandi dan mencuci bisa, tapi kalau minum, harus disaring,” kata Amirudin, warga Tanah Merah, belum lama ini.

Ia mengatakan, keluarganya harus menampung air hujan untuk dipakai mandi. Beberapa sumur tetangga mempunyai air lumayan bagus, sayang sangat terbatas. “Masalah air bersih sudah dari dulu, pada zaman Belanda, pemerintah saat itu sempat membangun sistem pengelolaan air, dibangun pipa-pipa besar namun tidak terpakai lagi,” ujarnya.

Persoalan air bersih di Boven Digoel menggaung hingga dunia internasional. Mempromosikan dunia pariwisata Boven Digoel pada ajang Papua Week di arena Floriade Expo 2012, Venlo, Belanda, 18 – 23 Mei 2012, dan Tong Tong Festival 2012 di Den Haag, Belanda, 24-28 Mei 2012, pemerintah Boven Digoel juga menyampaikan minat menarik investor asing untuk membangun sistem air bersih. Dengan adanya air bersih, setidaknya dapat memberikan kenyamanan ekstra bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah bersejarah itu.

Kekurangan air bersih dirasakan pula warga di Distrik Mindiptana, Boven Digoel. “Air ya begitu saja, warnanya merah, agak susah mendapat air bersih kecuali dari air hujan,” kata Kepala Distrik Mindiptana, Fransiskus Komon.

Menurutnya, pemerintah distrik tak memiliki kewenangan untuk membangun sarana pengelolaan air. “Dananya kan dari kabupaten, kita tidak bisa menyerobot. Tapi soal air, warga memang butuh. Kalau bisa ada juga PDAM,” katanya.

Ia menyarankan agar pemerintah tidak perlu mencari jauh-jauh investor dari luar negeri hanya untuk membangun sistem pengelolaan air. “Kalau bisa dari dalam negeri saja, kan ada banyak, kalau dari luar, masyarakat akan menunggu semakin lama, dananya juga besar,” katanya lagi.

Bonafasius Konotigop, mantan Sekda Boven Digoel menjelaskan, mendirikan sistem air bersih, contohlah Asmat. “Disana cuma ada air asin, warganya hidup dari air hujan tiap hari, tapi mereka bisa membeli alat penyaring hingga memperoleh air bagus. Kita disini bukan tidak ada air, saya kira itu hanya alasan pemerintah mencari investor keluar negeri,” katanya.

Kabupaten Boven Digoel memiliki luas wilayah 271.028 km2 dengan jumlah penduduk 35.376 jiwa. daerah itu merupakan satu-satunya kabupaten di Papua yang tetap mempertahankan nama Belanda. (02/AlDP)