Tanah Dijual, Pemilik Ulayat Resah

Tanah Dijual, Pemilik Ulayat Resah

Ilustrasi hak ulayat

Merauke – Albert Gebze Moyuend, wakil ketua Lembaga Masyarakat Adat Malind Anim di Merauke mengatakan, penjualan tanah yang tidak memperhatikan aturan adat, dapat berimbas hilangnya harga diri orang Malind. “Semua kembali ke adat, leluhur orang Marind tidak pernah mengijinkan tanah itu dijual. Sekarang lihat, penduduk asli sudah mulai tersingkir, dalam kota jadi milik orang luar,” kata Albert, belum lama ini.

Menurut dia, LMA sedari dulu telah menghimbau agar penjualan tanah memperhatikan kepentingan generasi. “Jangan lepas sekarang, nanti sendiri yang celaka, dulu kita punya tanah dan rumah, setelah jual, kita malah sewa lagi di bekas rumah kita, ini masalah,” ujarnya.

Ia tak memungkiri, akibat dibelit masalah ekonomi, kerap tanah dilepas dengan harga murah. Sebagian besar hak ulayat bahkan diberikan kepada investor dalam bentuk kontrak. “Mereka investasi untuk jangka waktu lama, hutan dan kayu diambil, nanti setelah sudah tidak ada kehidupan disana, barulah dikembalikan ke kita, kita menikmati materi yang investor berikan, tapi sebenarnya itu tidak cukup,” katanya lagi.

Di Jayapura, masalah tanah selalu berujung konflik. Pemilik tanah menjual haknya dan setelah beberapa tahun, kembali menyewa rumah dari bekas lahan yang dulu dijual. “Itu terjadi, orang Jayapura sudah kehilangan tanah. Yang masih kuat dengan adat mungkin mereka di Skow,” kata Albert.

Dalam sebuah peristiwa, seorang warga dari Kampung Yoka, mengaku namanya Ian mendatangi sebuah tempat usaha di Padang Bulan, Abepura. Ia meminta sejumlah uang karena merasa tanah tersebut miliknya. “Rumah ini sudah dibeli, pelepasan dan lain-lain, tapi masih saja ada orang datang minta uang, padahal mereka sendiri yang jual,” kata Kennedy, warga Padang Bulan.

Ia menyayangkan tindakan oknum tersebut yang mengaku seluruh pengusaha di Padang Bulan mengenalnya dan rutin menyetor rupiah tiap bulan. “Dia sudah datang tiga kali, saya tidak kasih, ini akibat jual tanah sembarang, sekarang sudah tidak ada tanah dan uang, mereka kembali memalak kita, yang salah disini siapa,” pungkasnya. (JO/Jayapura)