‘Taksi Laut’ Susah, Pulau Ram Nyaris Terisolir

‘Taksi Laut’ Susah, Pulau Ram Nyaris Terisolir

Sorong – Pulau Ram atau Pulau Buaya di Distrik Sorong Kepulauan, Kota Sorong, Papua Barat, nyaris terisolir. “Penyebabnya tidak ada taksi laut, untuk ke kota, kita harus numpang di nelayan Buton,” kata Festus Womsiwor, Ketua RW I/RT II Pulau Ram, pekan lalu.

Menurutnya, bertahun-tahun warga kesulitan menembus kota. “Kita malu tiap hari menumpang di orang lain punya perahu. Resikonya, kita berdiri dan kena air laut. Biar pakai baju baru, tapi kalau sampai di Kota Sorong, baju baru jadi basah,” ujarnya.

Warga yang memiliki perahu di pulau hanya beberapa. Dulu, pernah ada angkutan umum tiap saat mengantar warga ke Pulau Dom atau Kota Sorong. “Tapi kemudian berhenti, alasannya boros di bahan bakar, sementara penumpangnya sedikit. Itu dulu, sekarang lain. Masyarakat sudah banyak, kalau tidak ada taksi laut, semua jadi susah,” kata Festus.

Ia mengatakan, pemerintah berkewajiban mengadakan jalur lintas umum ke Pulau Buaya. “Angkutan laut hanya ada ke Pulau Dom, kenapa untuk ke pulau Buaya tidak ada, padahal kita begitu dekat dengan kota,” ucapnya.

Aktivitas warga di Pulau Buaya sangat bergantung pada angkutan. Untuk ke kota atau sebaliknya, warga harus menyewa atau menumpang perahu. “Kita mau bilang apa, terima saja, dari tahun ke tahun kita menumpang, malu juga sama orang lain, tapi itu sudah,” kata Festus.

Festus sepuluh tahun menjadi ketua RW. Beberapa kali ia menyampaikan pada pemerintah agar menempatkan taksi laut di pulau. “Perahu yang datang juga langsung sandar di pantai. Bukan di dermaga, dermaga sudah rusak,” katanya.

Taksi laut adalah perahu bermuatan sekitar sepuluh sampai belasan orang. Warga menggunakan angkutan umum ini apabila hendak ke Pulau Dom, yang berjarak sepuluh menit atau ke pulau terdekat. “Kita berharap pemerintah jangan tunggu sampai masyarakat mendesak, anggarkan saja dana yang cukup untuk bikin perahu, kita tidak minta yang banyak-banyak,” pungkasnya. (tim/ALDP)