Sulit Mengajak Warga Merauke Melakukan VCT

Sulit Mengajak Warga Merauke Melakukan VCT

Ilustrasi HIV-AIDS

Merauke-Henny Astuti Suparman, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Merauke mengatakan, belum berhasilnya mengungkap kasus HIV (human immunodeficiency virus) dan AIDS di Merauke, salah satunya terbentur ketidakmauan warga melakukan VCT (Voluntary Counseling Test).

“Ini jadi masalah, kalau semua bisa VCT, bisa ditemukan kasus baru,” kata Henny, Sabtu.

Menurut dia, penyebaran HIV bukan lagi di kalangan beresiko tinggi. “Tapi kini sudah ke masyarakat. Tugas semua pihak untuk bersama-sama menanggulangi bahaya HIV,” ujarnya.

Hingga Juni 2012, HIV AIDS di Merauke mencapai 1.464 kasus. Ibu rumah tangga menempati 222 kasus, sementara pekerja seks komersial 219 kasus. Berdasarkan data Bidang Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan, Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke bulan Juni 2012, angka HIV AIDS terbanyak adalah wanita dengan 713 orang atau 48,5 persen, laki-laki 705 atau 48,2 persen dan tidak diketahui 46 atau 3,3 persen.

Henny menambahkan, penanggulangan AIDS di Merauke dilakukan sejak tahun 1992. Kasus ini terus meluas tanpa memandang status sosial seseorang. “Awalnya hanya di kalangan pekerja seks, namun masuk ke masyarakat, malah sekarang pekerja seks angkanya menurun,” katanya.

Dalam sebuah kegiatan negosiasi kondom di Merauke, pekan lalu, puluhan PSK di Yobar Merauke hadir menyimak penggunaan kondom menghindari penularan HIV. “Ini membuktikan, mereka lebih patuh, bahkan dalam tiap bulan harus diperiksa medis, artinya, bukan kemudian mau dibilang ‘silahkan saja ke Yobar’, tapi masyarakat perlu menghindari bahaya HIV dengan tidak melakukan seks bebas,” kata Henny

Menurut dia, Peraturan Daerah Kabupaten Merauke, Nomor 5 tahun 2003 tentang penanggulangan IMS, HIV dan AIDS juga perlu diubah. “Karena sudah tidak memadai, kondisi sekarang berbeda dengan dulu, ini setelah lewat penelitian naskah akademik maupun seminar,” ucapnya. (02/ALDP)