Suku Assolokobal Merencanakan Pendokumentasian Hukum Adat

03 juni 15 Buku Hukum adatWamena – “Tim ini lahir dari keprihatinan akibat dari permasalahan sosial yang dihadapi sangat banyak di suku Assolokobal oleh karena ini kepentingan masyarakat yang harus diangkat dan tidak boleh dipolitisir untuk kepentingan kelompok tertentu,” pesan Pastor John Jonga Pr saat memberikan arahan pada pertemuan kelompok intelektual suku Asolokobal di honai Pastoran di Hepuba Wamena (29/05/2015).

Kelompok intelektual yang dipelopori oleh kalangan muda dari suku Asolokobal mencoba untuk melakukan penguatan masyarakat adat melalui wadah yang disebut Tim Peduli Suku Asolokobal

“Kelompok ini tetap harus satu yakni untuk suku Asso dan Lokobal meskipun distrik atau kampung terus bertambah,”Jelas Yustinus Asso yang bertindak sebagai ketua Tim.

Menurutnya adat suku Assolokobal mulai ditinggalkan dan dibagian lain masih dipraktekan namun mengalami perubahan.

“Misalnya sekarang, orang menetapkan ganti rugi bukan karena melihat materi masalahnya tetapi melihat apakah pelakunya kaya atau tidak, akibatnya permintaan menjadi berlebihan dan adat menjadi masalah,ini harus di perbaiki,” tegasnya.

Hingga kini telah ada 4 distrik yang menaungi suku Asolokobal ada sekitar 23 kampung/desa.

Rapat yang dihadiri oleh sekitar 40 orang anggota suku Assolokobal juga dihadiri oleh tim YTHP dan AlDP yang diminta untuk memfasilitasi kegiatan tim tersebut.

“Kami akan mulai dengan melakukan dokumentasi hukum adat di suku Assolokobal. Kita akan memperhatikan masalah-masalah yang ada dan mekanisme untuk ganti rugi atau bayar denda dan hal lain yang menjadi ciri kehidupan kita,”lanjutnya.

Rapat yang berlangsung sekitar 5 jam itu kemudian memutuskan agenda pertemuan dengan kepala kampung/desa masing-masing dan membentuk tim kerja di setiap kampung/desa.(tim/AlDP).