Sukses Pengembangan Vanili, Miskin Akses Pemasaran
Ilustrasi Ruang Persidangan

Sukses Pengembangan Vanili, Miskin Akses Pemasaran

Jayapura – Program pengembangan bibit dan penanaman Vanili di kampung Nembukrang Sari Kabupaten Jayapura mengalami kemajuan. Bahkan program penanaman Vanili yang diprakarsai oleh Dinas Perkebunan Kabupaten Jayapura terbilang sukses. Ditunjang dengan lahan yang subur sehingga tidak menyulitkan para petani Vanili yang ikut dalam program penanaman Vanili sejak tahun 2000 lalu.

Sejumlah tanaman Vanili di pekarangan bapak Marthinus Waibro terlihat sangat subur dan sudah berbuah, sudah beberapa kali dipanen saat tim AIDP Online berkunjung ke Nembukrang Sari.

Namun Marthinus Waibro menyayangkan dibalik kesuksesnya program penanaman Vanili, tidak dibarengi dengan adanya infrastruktur dan akses pemasaran sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Dinas Perkebunan.

Satu kilo Vanili didapat dari 300-400 buah vanili. Vanili yang sudah dikeringkan per/kg bisa mencapai satu juta. Hal tersebut pernah dijelaskan oleh dinas kepada masyarakat setempat. Namun setelah Vanili tumbuh dan berbuah tidak ada pemasaranya. “Biaya selama ini untuk menanam dan merawat tersebut menjadi terbuang sia-sia,” terangnya.(06/07/2012).

Menurutnya selama ini dinas hanya menyuruh warga untuk menanam Vanili tapi hingga hari ini masyarakat belum menikmati hasil program penanaman Vanili. “Kami hanya disuruh tanam, tapi hingga sekarang tidak ada yang membeli,” jelasnya.

Masyarakat berharap pemerintah dalam hal ini dinas perkebunan membangun akses pemasaran Vanili yang benilai tinggi tersebut. Tidak serta merta setelah membuat program kemudian ditinggalkan tanpa ada pendampingan berkelanjutan kepada masyarakat. “Pemerintah harus bantu sampai ada yang membeli vanili-vanili yang sudah masyarakat tanam,” pintanya. Lanjutnya lagi, “ Jangan setelah bikin program pergi, tidak kasih pelatihan cara pelihara yang baik bagaimana?,”.

Sejak program penamanam Vanili digalakkan masyarakat belajar sendiri untuk bagaimana menanam dan merawat hingga berbuah. Vanili yang ada sekarang, berbuah tapi tidak bisa dijual karena tidak ada yang membeli.  “Kami sudah anggap tanaman Vanili yang tumbuh sebagai tanaman liar saja, habis mau bagaimana lagi tidak bisa dijual,” tegasnya.

Bapak Marthinus berharap pihak pemerintah memberikan akses pemasaran Vanili yang sudah ditanam, misalnya dengan membuka koperasi untuk pemasaran Vanili sehingga hasil tanam Vanili bisa dinikmati.(Tim/AIDP)