Spiritualitas Sobat Bram Dan Pekerjaannya Yang Luar Biasa

Filed under: Inspirasi |

ALDP- Bram Martin (27 tahun) anak Purwakarta, kini sudah 2 tahun “menyedahkahkan” dirinya pada satu kampung kecil bernama Pipal di distrik Aboy, kabupaten Pengunungan Bintang. Dia satu-satunya orang luar di Kampung Pipal.

Dia bermimpi ke Papua sejak kuliah semester lima di Surabaya tapi karena dituntut untuk bertanggung jawab kepada orang tua yang membiayai kuliah, Bram menyelesaikan kuliah dan bekerja di Jakarta, sambil terus berdoa dan merencanakan saat yang tepat serta peluang untuk berangkat ke tanah Papua. Ketika Bram bertemu seorang temannya, dokter kontrak di distrik Aboy pada Januari 2009,Bram makin tertarik,seperti ada dorong Ilahiah yang sangat besar.

Tantangan pun datang, kedua orang tuanya tidak mengijinkan bahkan sempat berkata “saya kehilangan satu anak”, kakak perempuan yang dia banggakan berkata “pelayanan itu bukan bagian kamu”, direksi perusahaan tempatnya bekerja berkata “pikirkan itu seribu kali lagi”, teman terbaiknya berkata “nekat dan tidak pikir panjang”. Namun saat itu,”Saya hanya percaya untuk hidup bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Begitu pula sampai saat ini, saya ada itu hanya karena kasih karunia Tuhan saja, tidak ada yang lain,”Ujarnya optimis.

Pada bulan Juli 2009 Bram mengundurkan diri dari perusahaan dan bulan Agustus tahun 2009  untuk pertama kalinya Bram sampai di Papua bersama temannya yang merupakan sumber informasi pertama buatnya. Bram bersama temannya ke Distrik Aboy tempat  temannya bekerja.

Dengan pikiran agar dia dapat bertahan di pedalamannya, Bram dan temannya  mencari tempat yang sudah tersedia dengan fasilitas yang mereka perlukan seperti tempat tinggal yang layak, lapangan terbang untuk mempermudah transportasi, gedung sekolah dan penduduk yang siap untuk diajar.”…Bukan itu yang Tuhan mau. Tuhan bahkan membawa saya ke kampung yang paling miskin diantara ketujuh kampung yang saya sudah kunjungi…”

Kampung itu namanya Pipal,suku Katemban,dengan jumlah kurang dari seratus jiwa. Belum ada lapangan terbang, jadi harus ditempuh dengan jalan kaki selama satu hari dari distrik Aboy. Bram tinggal di ruangan yang berukuran sangat kecil 2×1 m,layaknya rumah masa depan alias kuburan, tidak ada gedung sekolah, tidak ada rumah sehat, bersyukur sudah bangunan gereja kecil dengan tiang-tiang penyangga sudah lapuk, ada radio SSB walaupun accu sudah mulai drop. Bram beruntung di Pipal ada beberapa orang yang mampu berbahasa Indonesia walaupun putus-putus, Bram pun belajar bahasa Katemban.

Bram mulai misi mulianya,mengajar buta huruf dan kini sudah ada dua kelas. Bahkan Bram sudah punya anak didik yang mampu mengajar di kelas kecil tapi kini anak didiknya meneruskan pendidikan di kampung lain sehingga Bram kembali mengajar sendiri. Bram mengajar dengan multi media, mengajak anak muridnya ke pinggir sungai, menulis huruf dan angka di atas batu atau memutar film melalui DVD Portable miliknya.”Pengetahuan mudah dimengerti dan disenangi jika medianya menarik,”jelasnya.

Hampir setiap bulan Bram terkena malaria dan karena itu dia belajar menangani  malaria. Atas pengalaman itu Bram jadi ahli mengobati malaria di kampung terutama untuk anak-anak, akan tetapi masih sangat diperlukan tenaga medis dan obat-obatan. Menurutnya keterlambatan pertolongan para medis menyebabkan angka kematian masih sangat tinggi. Walaupun sudah ada kader kesehatan, para kader di kampung-kampung belum mampu berbahasa Indonesia sehingga kadang kesulitan memahami cara penanganan dan penggunaan obat-obatan.Kadang salah memberikan obat kepada penderita terlebih bila penderita anak kecil.

Selain penyakit malaria, di Pipal ada yang menderita penyakit kulit seperti kusta, kaskado dan kaki gajah, Bram membantu mereka dengan pengobatan standar yang dibekali oleh teman dokternya, Bram juga belajar menggunakan tumbuhan untuk pengobatan.Selain itu untuk meningkatkan kebersihan penduduk,Bram mengajari cara membersihkan tubuh dengan menggunakan sabun,dia belajar membuat sabun sendiri.

Pekerjaan lainnya,Bram bersama masyarakat membersihkan lahan untuk membangun lapangan terbang,selain sebagai transportasi biasa,Bram berharap jika sudah ada lapangan terbang,pemerintah ataupun lembaga swasta lainnya mau peduli dengan Pipal, tidak ada alasan soal transportasi. Agar masyarakat bisa hidup lebih manusiawi seperti: ada gedung gereja yang lebih baik, sekolah, Pustu, rumah misi, rumah sehat untuk masyarakat, penerangan misalnya menggunakan PLTMH atau PLTS, tenaga guru dan kesehatan.

Peran lainnya adalah sebagai penyampai Firman Tuhan kususnya perjanjian lama. Alkitab bahasa Ketemban yang digunakan hanya perjanjian baru saja karena perjanjian lama dalam bahasa Ketemban masih dalam proses pengerjaan). Selain itu dia mengajari beberapa masakan sederhana kepada masyarakat.Bram juga telah berhasil membangun tempat tinggalnya yang lebih layak.

Darimana Bram mendapatkan sumber dana?.Bram mengandalkan bantuan spontanitas  Setidaknya Yayasan Patmos di Jakarta membantu bangunan gedung ibadah 5X8 m dan klinik berukuran 5X6 m dan yayasan Anugerah di Surabaya menyumbangan perangkat SSB,satu-satunya alat komunikasi ke dan dari kampung Pipal. Selebihnya bantuan datang dari “kemurahaan hati orang-orang untuk membantu masyarakat di Kampung Pipal,” Ujar Bram.

Hingga kini belum ada bantuan dari pemerintah meski Bram sudah menyampaikan temuannya ke dinas kesehatan mengenai berbagai permasalahan penyakit yang dialami masyarakat juga ke dinas pendidikan mengenai kebutuhan pendidikan di kampung Pipal.

Bram menyadari pekerjaannya makin malam makin berat dan membutuhkan bantuan banyak pihak. “Saya berharap kesaksian ini bukan hanya jadi cerita yang menarik saja tapi lebih dari itu saya berharap perhatian dari Pemerintahan Pegunungan Bintang ataupun dari pihak lain, siapapun mereka yang peduli untuk memperhatikan kesejahteraan masyarakat maupun untuk para relawan yang melayani,” ujarnya dengan semangat

Dokter Rika Kapisa,salah seorang sahabatnya menyebutnya “Bapa guru Bram” tanpa SK, tanpa gaji, tanpa rumah yang layak.Cinta Bram kepada Tuhan mengalahkan segala rintangan dan kasihnya kepada sesama manusia membuat dia tetap ada sampai saat ini”.

Ketika Bram turun ke Jayapura, biasanya dia membangun komunikasi pribadi dengan beberapa orang yang bersedia membantu secara sukarela, uang ataupun material tertentu bahkan kadang Bram menjual makanan untuk mendapatkan bantuan. Bram mengumpulkan bantuan sekitar 1-2 bulan, belanja kebutuhan untuk Pipal dan kembali ke Pipal untuk waktu sekitar 3-4 bulan,begitu siklus aktifitasnya. Kemarin Bram pamitan ke ALDP,’sampai tiga bulan lagi yah ” katanya.(Tim/AlDP)

Share Button

2 Responses to Spiritualitas Sobat Bram Dan Pekerjaannya Yang Luar Biasa

  1. mohon bantuan untuk pembangunan gedung gereja di Mamasa

    lefran
    December 29, 2012 at 12:28 pm
    Reply

  2. mohon bantuan dana untuk pembangunan Gedung Gereja di Desa Tondokbakaru, kec Mamasa Kab Mamasa

    lefran
    December 29, 2012 at 12:36 pm
    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


4 + = 12

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>