Berita

Siswa Muting Belajar Mengukir dan Bahasa Daerah

Merauke – Mengajar tradisi dan budaya menjadi pekerjaan berat yang harus diberikan guru di Distrik Muting, Merauke. Salah satu muatan lokal yang diajarkan adalah mengukir dan mempelajari bahasa daerah.

“Mengukir bukan seperti ukiran Asmat, kita mencari yang khas untuk Malind Anim,” kata Sisilia Maturbongs, Kepala Sekolah SD YPPK Yohanes Don Bosco di Muting, pekan lalu.

Menurut dia, mengukir dan belajar bahasa daerah, keharusan bagi siswa untuk mempertahankan sesuatu yang nyaris hilang. “Remaja saat ini tidak tahu lagi bahasa daerah, kewajiban kita mengajarkan pada anak didik, tujuannya semoga kelak tradisi ini tidak hilang begitu saja,” katanya.

Bahasa yang diajarkan versi Suku Malind Anim di Merauke. Orang Marind tinggal di empat penjuru mata angin. Menurut adat Malind, empat penjuru itu adalah Imo, Mayo, Sosom dan Esam. Bagi mereka, bahasa penting sebagai alat komunikasi antara sesama dan alam. Meski berbeda diucapan, namun ada kemiripan pada kata-kata tertentu antara orang Malind pantai dan darat.

Ketika mempelajari bahasa, siswa juga sekaligus diajak mengenal budaya Malind. Sedikit banyak mengaitkan beberapa sebutan (bahasa) dengan pekerjaan, kegiatan tradisi, atau juga mengenal marga. Bagi orang Malind, setiap keluarga memiliki simbol atau totem berbeda-beda. Gebze disimbolkan dengan pohon kelapa, Samkakai dicitrakan dengan kanguru, Kaize dengan kasuari, Basik-basik dengan babi, atau Balagaize dengan burung elang.

“Anak harus tahu apa marga mereka berhubungan dengan sesuatu, apa sebutan untuk makan, bekerja dan lain-lain, saya kira orang tua juga mengajarkan anak, tapi setidaknya dengan muatan lokal, ini bisa lebih membantu,” papar Sisilia.

Ia memandang budaya Malind mulai tergerus perlahan. “Dulu orang Malind hidup di alam, setelah mengenal dunia baru, budaya itu agak luntur, saya kira sekolah di kota juga perlu membuat bahan ajar soal budaya Malind.” (02/AlDP)