Simeon Urupdana Memetik Coklat Untuk Membeli Buku dan Pensil

Yuruf – Nama anak kecil yang perkasa ini Simeon Urupdana, kelas III SD YPPK Yuruf. Simeon tinggal bersama nenek dan kakeknya di kampung Amgotro (Kampung Tengah) Yuruf distrik Web Kab Keerom.
Meksipun dia masih sekolah, Simeon selalu menyediakan waktunya untuk membantu nenek dan kakeknya di kebun membersihkan lahan, memetik coklat atau menanam sayur-sayuran.
Kadang Simeon, pergi membantu temannya untuk memungut coklat dan untuk dijual bersama.Hasilnya tak lebih dari 2-4 kilogram untuk dia dan temannya.”Uang saya pake untuk beli buku dan pensil,”Jawabnya ketika ditanya untuk apa dia ikut memetik coklat dengan temannya. Uang dari kerja ekstranya bersama teman memang untuk membeli kebutuhan sekolahnya yang selalu kurang(07/04/2012).
Meksipun ada dana BOS, namun Simeon dan murid lainnya tak mendapatkan cukup bantuan, mugkin karena sekolah mereka sekolah Yayasan, bukan sekolah Negeri.Padahal sekolah YPPK merupakan sekolah tua yang sudah sekian lama berjasa untuk mendidik anak-anak asli Papua terutama di daerah-daerah terpencil seperti Yuruf.
Nenek Simeon mengatakan selama Simeon sekolah, Simeon mendapatkan bantuan seragam selama 3 (tiga) kali dan sekali diberikan buku tulis, selebihnya mereka sebagai orang tua atau wali murid yang akan mengusahakannya sendiri.
Selepas dari memetik coklat tak jarang Simeon langsung pergi ke dapur dan memasak sayur untuk nenek dan kakeknya. Sambil memasak Simeon menghangatkan badan di tungku kayu rumah panggung mereka. Setelah itu Simeon menghilang lagi, kembali bermain bersama teman-temannya.
Simeon anak kecil dengan tanggungjawab yang besar namun masih berusaha untuk mengisi kecerian masa kecilnya dengan bermain bola saat hujan atau mandi di kali yang deras.Simeon pun bergaya saat dipotret.
Ketika ditanya apa cita-citanya kelak setelah sekolah, seperti kebanyakan anak kampung lainnya di sekitar distrik Web, mereka bingung menjawab. Tidak ada yang menjawab sesegera yang kita inginkan. Kesulitan hidup yang mereka alami, keterbatasan informasi yang mereka hadapi dan tidak tersedianya fasilitas sekolah dengan baik, membuat mereka tidak sempat memikirkan cita-cita. Mereka hanya tahu hari ini sebaiknya sekolah dan apakah besok masih bisa sekolah.(Tim/AlDP).