Siaran Pers :Refleksi 8 Tahun dibunuhnya Pejuang HAM Munir Said Thalib (Munir).

Siaran Pers :Refleksi 8 Tahun dibunuhnya Pejuang HAM Munir Said Thalib (Munir).

“Pembungkaman HAM dan Demokrasi & Lemahnya Penegakan Hukum”

Munir, Pejuang HAM

Alm. Munir Said Thalib (Munir). adalah Tokoh Pejuang hak asasi manusia (HAM) yang gigih dan berani dalam mengungkapkan kebenaran soal kasus-kasus orang hilang pada saat Resim Soeharto. Kegigihannya tersebut membuat kadang dia harus berhadapan dengan Aparat Keamanan dalam membela kebenaran. Kemudian akhirnya dia dibunuh dengan cara  diracuni dengan Arsenik pada tanggal 7 September 2004 lalu saat hendak dalam perjalanan menuju Amsterdam, proses penyelidikan yang dilakukan menunjukkan adanya keterlibatan BIN, namun kemudian hanya seorang Pollycarpus yang kemudian diproses. Pola seperti ini sering dibangun untuk mematikan gerakan HAM, karena tidak jarang negara menggunakan alat negara untuk membungkam ruang-ruang kebenaran dan ketika ruang hukum yang akan ditempu, disitu juga negara ikut dalam melemahkan sebuah proses hukum.

Perkembangan terakhir dari kasus munir ini adalah kemarin teman-teman di Jakarta melakukan aksi Kamisan dan saat ini teman-teman akan ke Kejaksaan Agung untuk terus mendorong kasus Munir, dan juga berbagai Kampanye lewat media sedang dilakukan untuk terus mendesak negara  untuk memproses pelaku-pelaku yang diduga terlibat.

Perjalanan kasus Munir ini sebenarnya merefleksikan kondisi dan situasi Para Pembela HAM yang terjadi saat ini secara umum di Indonesia dan khusus juga terjadi di Papua. Kami berpendapat bahwa praktek-praktek seperti ini juga terjadi di Papua sampai dengan saat ini dalam beragam bentuk, baik mulai dari adanya teror dan ancaman, penculikan dan pembunuhan, namun juga dengan adanya pengkriminalisasian dan penolakan kelompok tertentu dalam menggunakan haknya untuk bebas berekspresi. Sebelumnya kita pernah dihadapkan pada Tokoh Papua Theis Eluway yang dieksekusi mati dengan sadis saat perjalanan pulang ke rumah dan soal penegakan hukum tentulah kita tahu bersama ada ruang impunitas disana.

Masih membekas juga dalam ingatan kita, bagaimana seorang Mako Tabuni, yang kemudian dieksekusi mati oleh Densus 88, yang kemudian pertanggungjawaban hukum juga tidak ada sampai saat ini. Kemudian juga masih adanya pelarangan oleh negara terhadap kebebasan berekspresi terhadap kelompok-kelompok tertentu, yang mana baru-baru ini dilakukan terhadap SKP HAM Papua untuk mendukung pengobatan Fillep Karma salah satu narapidana Politik. Kemudian ada sejumlah teror dan intimidasi yang dialami oleh sejumlah Para Pekerja HAM seperti Socrates Sofyan Yoman, Benny Giay, Pater Jhon Jonga, dll saat melakukan kritik terhadap sebuah penindasan dan kekerasan.

Secara umum kami melihat bahwa tonggak sejarah reformasi yang kemudian membuka kran demokrasi dan HAM itu juga sekarang kelihatannya sedang dibungkam dengan berbagai cara oleh negara, dan tentunya bagi kami bahwa proyeksi penegakan hukum dan HAM kedepan akan sedikit sulit, jika pendekatan-pendekatan negara masih berbentuk pendekatan kekerasan dan jika masih ada sebuah intervensi politik kekuasaan dalam sebuah proses pengungkapan kebenaran lewat mekanisme hukum.

Berangkat dari kondisi diatas, maka dalam peringatan 8 Tahun dibunuhnya Munir ini, Kami KontraS Papua dan Buk, mendesak :

  1. Berkaitan dengan Kasus Munir, maka kami mendesak juga terhadap Kepolisian, dan Kejaksaan Agung untuk  memproses pelaku-pelaku yang terindikasi terlibat dalam konspirasi pembunuhan Munir, sehingga kasus Munir menjadi satu tolak ukur keadilan bagi Para Korban. Dengan kata lain, kita meminta adanya pertanggungjawaban negara secara hukum terhadap kasus Munir dan juga kasus-kasus yang lain.
  2. Adanya kebijakan yang persuasif dalam memberikan perlindungan bagi para pembela HAM yang ada di tanah air, khususnya di Papua dalam melakukan kerja-kerja kemanusian
  3. Menghentikan segala bentuk praktek-praktek pembungkaman kebebasan berekspresi dan juga sejumlah teror-teror dan intimidasi di Tanah Papua

Jayapura, 7 September 201

KontraS Papua & Bersatu Untuk Kebenaran (BUK)