Siaran Pers: Koalisi Penanganan Kasus Dugaan Penyiksaan di LP Klas IIA Abepura

Dalam kesempatan ini, hendak kami sampaikan bahwa kami para penggiat Hukum dan HAM yang terdiri dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS)-Papua,  Sekretariat Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Fransiskan Papua, LBH – Papua, Elsham Papua, ALDP, KPKC Sinode GKI, BUK dan Pendamping Tapol/Napol Biak telah menerima pengaduan dari 4 orang korban, bahwa telah terjadi tindak kekerasan, penyiksaan dan perlakuan tidak menyenangkan yang diduga dilakukan oleh Kalapas Klas II A Abepura Drs. Liberty Sitinjak,M.Si, MM beserta beberapa orang staf Lapas kepada 41 Narapidana dan 1 Tahanan Politik di Lapas Klas II A Abepura – Jayapura – Papua pada tanggal 30 April 2012 sekitar pukul 13.00 waktu Papua.

Dari hasil investigasi yang dilakukan sejak tanggal 3 Mei 2012 hingga sekarang, peristiwa kekerasan dan penyiksaan ini berawal dari suatu komunikasi yang keliru, yang mana kemudian  direspon oleh Kalapas Abepura dan beberapa staf Lapas dengan tindakan represif. Kemudian dari hasil tindakan tersebut, selama 3 hari setelah kejadian, akses keluarga dan pengacara terhadap tahanan dan narapidana di LP ditutup untuk umum, entah untuk maksud dan tujuan apa. Dari evaluasi kami juga bahwa hal ini bukanlah yang pertama terjadi di Lapas Klas II A Abepura, namun pada tahun 2008 dan 2010 pernah terjadi beberapa hal yang serupa. Kami sangat menyayangkan bahwa pola-pola kekerasan masih digunakan dalam Lembaga Pemasyarakatan Abepura untuk meredam beberapa aspirasi dan kreatifitas Tahanan maupun Narapidana.

Kami juga menyayangkan bahwa belum ada pertanggungjawaban hukum terhadap dugaan kekerasan yang terjadi tanggal 30 April 2012, tetapi Kalapas yang bersangkutan telah dipindahkan ke LAPAS Ambon tanpa mempertanggungjawabkan perbuatannya. Hal ini tentunya membuat kami berpikir bahwa Negara dalam hal ini Kementerian Hukum dan HAM sebagai penanggungjawab tertinggi atas tahanan dan narapidana, masih  melanggengkan tindakan kekerasan, karena tidak adanya pertanggungjawaban hukum terhadap setiap pelaku kekerasan khususnya dalam Lembaga Pemasyarakatan Klas II Abepura.

Menindaklanjuti hal tersebut, kami mencoba melakukan audiensi dengan Kepala Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM (Depkumham) Provinsi Papua untuk mengkonfirmasi persoalan dimaksud. Namun setelah dikoordinasikan dengan Kanwil Depkumham, belum ada respon dan terkesan tidak ada itikad baik atas permohonan audiensi ini.

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka kami Koalisi Penanganan Kasus Dugaan Penyiksaan Di Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Abepura menyatakan sikap sebagai berikut :

  1. Adanya pertanggungjawaban hukum dari Institusi Negara dalam hal ini Kementrian Hukum dan HAM yang membawahi Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM serta Lapas Klas II A Abepura (Kalapas Drs. Liberti Sitinjak, M.Si, MM)  terhadap peristiwa yang terjadi tanggal 30 April 2012 sehingga terciptanya keadilan bagi para korban.
  2. Adanya jaminan keamanan bagi para korban dari ancaman, intimidasi dan tekanan berkaitan dengan peristiwa tersebut di atas, karena saat ini korban berada dalam  lingkungan Lembaga Pemasyarakatan Abepura.
  3. Mengganti Kepala Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM sebagai atasan dari Lembaga Pemasyarakatan Klas II Jayapura karena selama ini tidak dapat bertindak proaktif dan kooperatif dalam menyikapi persoalan-persoalan yang dialami oleh para tahanan dan narapidana dalam Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Abepura.
  4.  Adanya Jaminan ketidakberulangan tindakan kekerasan di Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Abepura, yang dapat ditunjukkan dengan proses hukum yang tegas bagi setiap pelaku sehingga memberikan efek jera.

Demikian pernyataan pers ini kami buat, atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.

Jayapura, 06 Juni 2012

Koalisi Penanganan Kasus Dugaan Penyiksaan Di Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Abepura