Sekolah di Mindiptana Kurang Guru

Sekolah di Mindiptana Kurang Guru

Boven Digoel – Seperti sekolah di wilayah terpencil di Papua, di Mindiptana, masalah kurang guru berlangsung dari tahun ke tahun. Minim tenaga pengajar di distrik tertua itu terjadi sebelum pemekaran Kabupaten Boven Digoel dari Merauke tahun 2002.

“Jumlah guru di Mindiptana berkisar antara 30 an, itu dari SD, SMP dan SMK, untuk mengatasi ini, kita bikin program dan ajukan ke dinas, program itu yakni membuat kelompok kerja guru, dan kelompok kerja kepala sekolah,” kata Fransiskus Komon, Kepala Distrik Mindiptana, pekan kemarin.

Ia mengatakan, tujuan kelompok tersebut untuk memperkuat kerja guru dan kepala sekolah dalam proses belajar mengajar. “Walaupun kelompok ini kecil, tapi mereka diharap bisa bekerja untuk pengembangan sekolah. Disamping itu, berguna untuk sertifikasi guru. Tidak ada dananya, namun kami tetap berusaha,” ujarnya.

Komon menambahkan, pihaknya berencana pula mendirikan sekolah kecil, yaitu SD tiga kelas di kampung-kampung. “Ada juga kelas rangkap. Memang dari dinas belum berpikir ke sana, ini masih dalam perencanaan. Kita sesuaikan dengan program dinas. SD kecil dan kelas rangkap perlu dibahas lebih jauh. Kelas rangkap menjawab kekurangan guru,” ucapnya.

Kebanyakan guru di Mindiptana, kata Komon adalah guru relokasi dan sebagian besar yang sudah pensiun. “Kita tidak bisa berharap guru baru seperti mereka yang sudah berpengalaman. Kalau tidak ada fasilitas lengkap, mereka kadang tidak betah mengajar,” kata Komon.

Persoalan utama pendidikan di Mindiptana adalah minim guru. “Ini salah faktor utama, tapi kita tidak bisa salahkan mereka, karena guru juga butuh penginapan. Rumah guru untuk pengajar SD bahkan tidak ada sama sekali. Di ibukota Mindiptana saja nol, apalagi di kampung-kampung,” ujar Komon.

Komon menjelaskan, bangunan sekolah begitu megah namun tak ada fasilitas yakni SMP YPPK Mindiptana, dan SMK N Mindiptana. “Ada bangunan tapi tidak ada kursi dan meja. Tiga ruang malah masih kosong. Sekolah ini dibangun tahun 2011. Karena tidak ada meja dan kursi, sekolah itu masih menggunakan gedung lama,” katanya.

Sementara SD yang perlu direhabilitasi adalah SD YPPK Mindiptana. “Dindingnya berlubang, atap sudah tua. Lantainya pecah. Perlu rehabilitasi total,” katanya. “Buku pelajaran juga tidak ada. Hanya buku lama yang kadaluarsa. Kita mau ambil buku dari dana BOS, tapi tidak bisa, karena semua tidak mencukupi, kecuali ada perhatian dari pemerintah,” tambahnya.

Komon menyayangkan sikap pemerintah acuh tak acuh terhadap masalah pendidikan di Boven Digoel. “Dalam musrembang, semua ini sering disampaikan, tapi ya itu sudah, pemerintah dengar sebelah tembus sebelah, semua persoalan dianggap angin lalu, nanti kalau dananya turun, semua baku rebut,” pungkasnya. (02/ALDP)