Seharusnya Warga Senggi Hidup Makmur

Seharusnya Warga Senggi Hidup Makmur

Keerom – Sejak Otonomi Khusus masuk ke Papua, danapun mengalir dalam berbagai bentuk ke kampung-kampung. Salah satunya ke Kampung Senggi, ibukota Distrik Senggi, Kabupaten Keerom.

Masyarakat Kampung Senggi terdiri dari 6 marga yakni Nak, Mela, Mangun, Mangul, Know dan Nawas.

Kampung yang berjumlah sekitar 75 KK ini, terbilang kaya, sebab dana cukup besar mengucur deras 2 tahun ini. Dalam setahun, ada dana BK 3 (Bantuan Keuangan Kepada Kampung) sebesar Rp.1 milyar, kemudian dana RESPEK dan PNPM Mandiri sebesar Rp.301 juta serta dana Infrastruktur kampung dari Dinas Pekerjaan Umum sebesar Rp.250 juta.

Dana yang diterima, dibuka dihadapan masyarakat dan diputuskan bersama penggunaannya. Ada yang dipakai untuk membangun jalan penghubung di kampung termasuk dari pemukiman menuju SD yang letaknya agak jauh.

Juga digunakan untuk bercocok tanam, mulai dari pembelian bibit, obat-obat pertanian hingga alat pertanian. Selain itu, setiap KK diberikan pula dana cash, paling besar Rp.800 ribu.

“Kami berpikir dana yang diberikan langsung itu, tidak akan digunakan untuk pertanian karena masyakarat akan pakai untuk keperluan lain, makanya sebagian kami belikan juga alat-alat pertanian,” ujar kepala Kampung Senggi Cristian Know.

Sejak Desember 2012, setiap KK diberikan 1 ekor sapi. Diharapkan mereka dapat merawat bersama dengan tetangga terdekat yang juga memiliki sapi. Selain sapi, diberikan juga babi sepasang.

Selain itu, mulai tahun ini Kampung Senggi sudah dilengkapi dengan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya). Tiang-tiang solarcell berdiri megah di setiap kiri kanan jalan kampung. Pemerintah menyediakan 3 titik lampu untuk setiap 1 unit rumah. Jaringan telkomsel pun sudah ada.

“Kalau dikatakan terang 100%, kami sudah terang 100%. Terang yang dimaksud untuk lampu menyala saja, tapi belum untuk peralatan elektronik seperti televisi, kulkas dan lainnya,” tambahnya lagi.

Kampung Senggi memang terlihat lebih tertata rapi. Ada banyak rumah direhab, dan ada pula yang memiliki motor roda dua. Namun banyaknya dana bantuan yang mengalir ke kampung Senggi tidak serta merta membuat masyarakat makmur, berkecukupan pangan dan dapat menyekolahkan anak mereka dengan baik.

Kehidupan mereka dengan berburu, bertani atau ikut mendulang emas di Kali Wembi, tak banyak berubah. Bisa jadi lebih tidak intensif lagi dikerjakan sebab ketergantungan pada dana-dana bantuan semakin besar. Juga ketergantungan terhadap sumber bahan makanan dari luar.

Sementara akses transportasi dari Jayapura dan Senggi tak banyak berubah, jalan darat masih sulit dilalui, beberapa ruas jalan rusak, tariff angkutan yang mahal, sedangkan pesawat udara tidak cukup lancar.

Akibatnya dana yang banyak sebagian besar habis terpakai untuk membeli bahan makanan ataupun biaya transportasi. Sulit untuk memacu atau menghidupkan satu perputaran ekonomi lokal yang mandiri dan menguntungkan. Mungkin sudah saatnya pemerintah memperbaiki pendekatan pembangunan terutama efektifitas pemanfaatan dana-dana yang dikucurkan. (Tim/AlDP)