Berita

SD Selpele Butuh Perhatian Khusus

SD Kampung Selpele

Raja Ampat – Sekolah Dasar Negeri Lahairoi Selpele, Distrik Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, butuh perhatian khusus. Bangunan SD yang sudah tua tak membuat siswa nyaman belajar.

“Dari dulu begitu, ada enam ruang tapi kayaknya kurang guru, begitu juga sarana belajar,” kata Ayelo, salah satu orang tua murid di Selpele, pekan kemarin.

Ia mengatakan, guru yang bertugas harus bersusah payah mengajar. “Murid belajar di SD ada puluhan, semua anak kampung, nanti dari sini baru mereka akan melanjutkan sekolah di kota, orang tua murid selalu berharap ada perhatian dari pemerintah agar anak-anak kita juga dapat belajar dengan baik,” ujarnya.

SD Selpele satu-satunya sekolah di kampung terpencil itu. Sebelah SD, berdiri gereja Kristen Injili di Tanah Papua. Orang Kawe masuk dalam Klasis Raja Ampat Utara, Jemaat Laharoi Selpele.

Selain Sekolah Dasar di perkampungan, pemerintah Raja Ampat membangun beberapa sekolah menengah pertama di distrik Kabare, Kalabo, Soenak, Ayau, Kabare, Yananas Kofiau, dan Salafen. Saat ini sudah ada sebanyak 21 sekolah menengah pertama didirikan. Sementara, untuk sekolah menengah atas, diantaranya SMAN 1 Raja Ampat di Waisai, SMAN 2 Raja Ampat–Waigama, SMA Negeri Waisilip di Waigeo Barat, SMAN Lilinta, SMA Negeri Kabare, SMAN Yanenas, SMAN Kalobo, SMKN Samate, SMKN Waisai dan Sekolah GUPI (Gabungan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam), yang tersebar merata di wilayah kepulauan Raja Ampat.

Memajukan pendidikan di Raja Ampat, pemerintah setempat juga menyelenggarakan pusat pendidikan berpola asrama yang dibangun di Kampung Volley, distrik Misool Timur untuk menampung anak-anak di Pulau Misool, pulau Salawati dan sekitarnya, di Kampung Warwanai, Distrik Wawarbomi untuk menampung siswa dari kepulauan Waigeo, Pulau Batanta dan sekitarnya, serta asrama di kampung Yanenas, Distrik Batanta bagi anak perempuan dari seluruh wilayah Raja Ampat.

“Semua baik, tapi seharusnya jangan ada pilih kasih, kalau mau pendidikan bagus, jangan hanya pulau tertentu saja, harus sama rata,” kata Yasid, warga Raja Ampat.

Ia berharap ada keterbukaan dari pihak terkait atas keberlangsungan pendidikan di daerah tak terjangkau. “Banyak kampung belum terjangkau karena sulitnya jarak dan medan, ini perlu perhatian khusus,” tambahnya. (02/ALDP)