SD Fafanlap Raja Ampat Kurang Guru

SD Fafanlap Raja Ampat Kurang Guru

Abdul Mali Bugis, Kepala Sekolah SD Fafanlap, Misool

Raja Ampat – Sekolah Dasar Negeri 15 Fafanlap, Distrik Misool Selatan, Raja Ampat, Papua Barat, minim tenaga pengajar. Hanya ada dua guru pegawai negeri dibantu lima honorer.

“Tapi kita tidak bisa paksa para honor, mereka di gaji dari dana BOS, kita memang kurang guru,” kata Abdul Mali Bugis, Kepala Sekolah SD Fafanlap, Misool, saat ditemui pekan lalu.
SD 15 Fafanlap mempunyai 197 murid dengan enam rombongan belajar. Akibat minim guru, seorang tenaga harus merangkap mengajar di beberapa kelas. “Kadang juga kita gabung kelas, kalau honor tidak masuk, terpaksa sekolah kita sendiri yang tangani,” ujarnya.
Dana BOS didapat SD Fafanlap tiap tiga bulan sebesar Rp25 juta. Dana tersebut digunakan untuk kepentingan sekolah dan pengadaan sarana belajar. “Dinas jarang memperhatikan kami, apakah karena kami memang sangat jauh, saya tidak tahu,” ucapnya.
SD Fafanlap di Misool Selatan dapat dicapai menggunakan perahu sewaan hingga belasan juta. Ada alternatif lain ke Misool, yakni menggunakan kapal cepat dari Kota Sorong, perorang Ro200 ribu. Perjalanannya semalam penuh. Fafanlap adalah kampung tertua di Misool Selatan. Kampung itu ‘melahirkan’ sejumlah desa, pecahannya seperti Yelu, Harapan Jaya, dan Usaha Jaya. Dengan kondisi sederhana, warga Fafanlap hidup rukun dan bergotong royong.
Di distrik Misool Selatan, terdapat empat SD negeri dan sebuah Madrasah. Yakni SD 15 Fafanlap, SD Negeri 17 Yellu, SDN 21 Harapan Jaya dan SD Negeri Persiapan Dabatan. Meski didera berbagai kekurangan, SD Fafanlap berhasil meluluskan seluruh siswa kelas enam dalam UN baru-baru. “Semua lulus seratus persen, itu semua karena ada dorongan orang tua terhadap anak untuk belajar baik, kita hanya beberapa jam mengajar, sementara anak lebih banyak di orang tua, sudah semestinya peran orang tua dan lingkungan lebih besar,” paparnya.
Ia berharap ada bantuan dari pemerintah untuk merenovasi sekolah. “Kalau mau tunggu, kapan lagi, ini waktu yang tepat kita bikin pendidikan lebih baik di Misool. Saya berharap ada perhatian serius dari pemerintah dan dinas terkait.”
Mali menambahkan, peningkatan kapasitas belajar siswa di Misool sangat kurang, berbeda dengan Pulau lain di Raja Ampat seperti Batanta, Waigeo atau Salawati. “Dari dulu perhatian selalu diberikan kepada pulau lain, kita mungkin karena dianggap jauh, sehingga disepelekan, mungkin yang pertama kita memohon adalah renovasi sekolah yang sudah rusak,” pungkasnya. (02/ALDP)