Berita

“Sayur Impor Bisa Mematikan Kami”

Serui-Membanjirnya sayur mayur dari luar Serui berdampak pada pedagang (mama-mama Papua) yang berjualan di pasar Inpres dan tradisional Serui. “Kalau ada kapal putih masuk ke Serui, kami sudah resah apakah sayuran kami akan laku atau tidak” kata Mina yang tinggal di kampung Mantembu.Menurutnya Kol, kentang, wortel, buncis dan masih banyak lagi yang didatangkan dari Surabaya, Makasar, dan Manado sudah menguasai pasar di Serui.(26/04/2012)

 “Kami hanya berjualan sayur daun dan bunga pepaya, biasanya 2-3 hari baru habis 10 ikat” kata Mama Maniambo dari Artaneng yang letaknya di Distrik Yapen Utara. Padahal mereka harus mengeluarkan biaya transportasi dari kampung sebesar 30 ribu dengan menggunakan perahu ke kampung Tindaret baru kemudian menggunakan mobil dengan biaya Rp.70 ribu untuk sampai  ke Serui. “Untung sekarang musim buah-buahan sehingga penghasilan kami masih ada,” tambahnya.

Menurut pengakuan mama Mince, jualannya seperti labu siam, daun kasbi, bunga pepaya dan daun petatas diambil dari kebun yang jaraknya sekitar 3 Km dari rumahnya di kampung Yapan.Dulu 1 ikat dijual seharga Rp 5 ribu sekarang menjadi Rp.10 ribu dan atau kadang mereka membaginya dengan ikatan yang jauh lebih kecil agar tetap seharga Rp.5 ribu.“Habis biaya hidup semakin tinggi karena harga barang-barang semuanya naik semau pedagang”, tandasnya.

Para pedagang berharap pemerintah dapat melindungi usaha mereka yang nilainya tidak seberapa namun sangat berarti buat menghidupi keluarga “BBM tidak naik tapi barang-barang sudah terlanjur naik karena tidak ada pengawasan dari Dinas perdagangan, katanya.Mereka khawatir masuknya sayur dari luar akan mematikan usaha mereka.

 “Kami ingin Bupati terpilih nanti bisa menjawab keluhan kami ini. Hasil bumi kami banyak tapi yang bisa kami jual ke Serui hanya sebagian saja karena ketiadaan alat transportasi dan mahalnya harga transportasi,” kata mama Sarce dari kampung Kiryouw yang letaknya di bagian Utara pulau Yapen.” Kalau bisa Pemda menyediakan kapal kayu untuk keliling pulau ini lalu membeli hasil kami, sehingga kami tidak mengeluarkan biaya besar ke Serui,” tambahnya.(04/AlDP)