Sanggar Seni Budaya Wambon ‘Dianaktirikan’
Perawat RSUD Dok II di Tahan Di Rutan Polda Papua

Sanggar Seni Budaya Wambon ‘Dianaktirikan’

Boven Digoel – Sanggar Seni Budaya Wambon Munggon, di Tanah Merah, Boven Digoel, yang kerap disebut sebagai pintu masuk memahami hukum adat dan Faam Mumanjawa Papua, ternyata masih ‘dianaktirikan’ pemerintah.

Paskalis Om Amkili, penata sanggar seni Wambon Munggon mengatakan, mereka tak memiliki bangunan sanggar selayaknya. “Padahal seni masa lalu semuanya ada disini, anak-anak muda sekarang tidak merawat baik seni dan budaya, kitalah yang urus, seharusnya pemerintah buka hatinya dan melihat kami,” kata Paskalis, pekan lalu.

Sanggar Budaya tersebut diresmikan pemerintah Boven Digoel pada tanggal 10 Maret 2012. Namun jauh sebelum itu, sanggar tersebut telah eksis memainkan peran dalam seni Boven Digoel sejak puluhan tahun lalu. “Ini ada dari nenek moyang dulu, mereka yang buat alat seni dan banyak barang lainnya. Turun temurun kita rawat ini,” ujarnya.

Sanggar seni Munggon mengoleksi beberapa jenis cawat, hiasan tubuh pria dan wanita, alat penabuh serta lukisan-lukisan jaman dulu. Di beberapa kesempatan, digelar latihan tari atau diskusi yang mengikutsertakan perempuan dan pemuda. “Ada banyak sanggar seni di Boven Digoel, semua menurut marga atau aliran. Kita hanya mengoleksi barang adat dari Munggon, tidak bisa mengambil barang adat dari suku lain,” ucapnya.

Beberapa benda dianggap sakral sehingga sulit diperlihatkan. “Ada sanksinya, itu tertutup, tidak bisa dibuka, hanya pada hari tertentu saja dapat dilihat,” katanya. “Semua benda seni harus dihargai, kita tidak bisa membuang barang itu, itu jati diri kita dan untuk anak cucu kemudian.”

Sanggar Seni Wambon Munggon pernah didatangi salah satu stasiun TV nasional. “Kami diwawancarai soal bagaimana menjaga tradisi dan budaya, kami juga sampaikan bahwa, sanggar ini jauh dari sentuhan pemerintah, untuk mengembangkannya, kami swadaya sendiri,” katanya lagi.

Ia berharap pemerintah memberi perhatian pada sanggar seni serta turut mengembangkan budaya di Boven Digoel. “Jangan urus politik saja, seni dan budaya itu penting, kalau ini tidak dirawat, semua orang akan kehilangan jati diri, kalau sudah begitu, masing-masing tidak akan baku tahu siapa dia. Jalan sendiri-sendiri,” pungkasnya. (02/ALDP)