Sang Dokter Yang Pengabdi dan Penolong

Jayapura- Bisa jadi dia satu-satunya dosen Universitas Cenderawasih(Uncen) dengan kepangkatan golongan IIIA yang memiliki jabatan sebagai Pembantu Dekan III di fakultas kedokteran Uncen. Dia pernah diingatkan dan diminta oleh pihak Universitas untuk mengurus kepangkatannya. “saya tidak kejar jabatan, jadi biar saja mau taruh saya dimana saja, saya tetap kerja,” katanya. Benar, sepanjang hidupnya hanya dipakai untuk mengabdi. Namanya dokter Rica Kapisa.

Ketika berstatus sebagai dokter PTT di Puskesmas Amban, di kampung-kampung sekitar Arfak dan daerah terpencil lainnya di Manokwari, honornya sempat tidak dibayar berbulan-bulan. Tidak ada yang peduli, dia pun tidak peduli, tetap bekerja dan rela makan apa saja dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Pengabdiannya kepada sesamapun tidak pernah surut.

Bahkan ketika harus melayani dari kampung-kampung terjauh di sekitar Arfak, Manokwari dia merelakan honornya untuk membayar anak-anak kampung yang mengantarnya menyeberang kali dan hutan, dengan cara digendong, “saya membayar mereka karena mereka gendong saya,” Ujarnya.

Sekitar awal tahun 2003, Rica rajin kampanye untuk anti aborsi yang dikenal dengan program ’Prolife’. Kemana-mana dia bercerita, membawa gambar dan film agar dengan mudah orang memahami isi kampanyenya. Aksinya pun meluas hingga ke beberapa komunitas perempuan aktifis.

Sekitar tahun 2006 Rica seolah mendapatkan temuan baru yakni keterlibatannya pada kelompok doa, katanya, “Ini kumpulan beberapa perempuan Papua yang bekerja dengan talenta masing-masing mencari petunjuk dan berdoa buat keselamatan dan kedamaian di Papua”. Hubungannya yang sejak lama sudah dekat dengan Mama Ferdinanda Ibo Yatipai semakin lengket sebab mama Ibo adalah bagian dari kelompok tersebut.

Rica dan mama Ibo mengkampanyekan tata cara beribadah, memahami al kitab dan juga berpakaian seperti isi dari Perjanjian lama, katanya,” agama kami berasal dari Sion(Jerusalem) , jadi semua kembali ke Sion, tata cara Sion”. Sejak itu Rica dan mama Ibo sering berdoa dengan kelompoknya, saat berdoa mereka menggunakan tudung/penutup kepala.

Awal tahun 2009, Rica punya kesibukan baru yakni mengumpulkan informasi, teman-teman dan bantuan untuk disumbangkan pada gerakan-gerakan perorangan yang menjadi sukarelawan turun ke kampung-kampung seperti di Pipal Pengunungan Bintang dan beberapa distrik di Kab Mamberamo.

Rica membantu mereka dengan total, mendatangi dinas pendidikan dan kesehatan, mengajarkan membuat sabun, mendirikan PAUD, mencetak leaflet-leafet, mencari donator lainnya melalui jaringan kenalan dan kerabatnya dan diapun merogoh gajinya untuk membantu aktifitas tersebut.

Kadang Rica menyurat kepada Gubernur, DPRP dan MRP untuk menyampaikan saran atau refleksinya terhadap satu permasalahan di Papua meskipun dia tahu pendapatnya lebih sering diabaikan.

Pada pertengahan tahun 2011 Rica mulai menderita sakit sesak napas yang luar biasa. Dia sempat diopname namun karena bosan akhirnya memilih dirawat di rumahnya di  Polimak II. Infus dan Oksigen selalu melekat dalam tubuhnya. Ketika dikunjungi dia mengatakan, “saya hidup dalam mati, tapi saya juga sudah mati tapi masih hidup” katanya membolak-balik kalimat. Setiap 3 minggu, tabung oksigen ditukar ke RSUD Dok II. Mahasiswa,teman-teman dosen dan kerabatnya yang bergantian membantunya ke rumah sakit.

Tak lama kemudian, di akhir tahun 2011 Rica minta ‘berlibur’ ke Manokwari tempat  dimana dia mulai mengabdi dan mengenal berbagai lingkungan dan dukungan. Baru pada awal Mei 2012 Rica kembali ke Jayapura dengan kondisi yang masih sangat memprihatinkan. Sehari-hari hidupnya tetap bergantung pada infus dan oksigen hingga dia tak kuasa dan menulis sms pendek’ Saya sakit”. Menjelang kematiannya baru dia merasakan dirinya sakit.

Rica dilarikan kembali ke RSUD Dok II Jayapura, langsung ditempatkan di ruang ICU, tak lebih dari seminggu, Rica harus berpamitan pada dunia. Rica diistirahatkan dari dunia, dia sudah terlalu banyak berkarya dan meninggalkan kenangan baik. Hal itupun terlihat dari para pelayatnya yang tumpah ruah sejak di rumahnya hingga saat upacara pelepasan di Auditorium Uncen(16/06/2012). Hampir sebagian besar pelayat yang berasal dari Fakultas Kedokteran Uncen menggunakan jaket(jas putih) kedokteran.

Nyanyian-nyanyian dalam bahasa Ibrani mengiringi ibadah pemakamannya. Nampak wajahnya teduh dalam peti berwarna putih, pakaiannya juga serba putih dan Rica, 44 tahun,menggunakan tudung warna putih bercorak halus warna biru menutup kepalanya. “Kuburkan saya disebelah mama,” pintanya. Maka iringan-iringan mobilpun mengantar Rica ke Yepase, Depapre, tempat ibunya dibaringkan 2 tahun lalu. Selamat jalan buat sobat.(Tim /AlDP)