Sambil Mengajar, Usaha Buah Merah

Sambil Mengajar, Usaha Buah Merah

Wamena – Namanya Sumadi. Seharinya bekerja sebagai guru SD Yapis di Walesi, Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Selain mengajar, Sumadi memproduksi minyak buah merah dan madu asli. Minyak buah merah yang diberi label Agro Herbal Husada, ditekuninya sejak tahun 2005.

Bahan buah merah diperolehnya dari warga di Kelila dan Bokondini. Mereka mengantar seminggu 3 kali, dengan harga Rp.40 ribu/buah.

Sumadi memasak buah merah menggunakan tiga panci berukuran besar. Diendapkan di ember beberapa saat, disaring, lalu diendapkan kembali. “Proses ini dilakukan sebanyak tiga kali baru mendapatkan kualitas terbaik,” katanya.

Menurut dia, dengan cara seperti tadi, buah merah buatannya akan bertahan lama. “Saya punya sampel, dibuat pertama kali tahun 2005 dan hingga kini masih dapat digunakan,” ucapnya bangga. Buah merah yang sudah jadi dimasukan  ke dalam jerigen. Satu jerigen 5 liter menampung hingga 20 buah merah.

Sedangkan untuk usaha madu asli, Sumadi bersama beberapa orang mencari langsung sarang lebah di hutan. Pengolahannya pun sederhana. “Tidak kami remas karena akan merusak kualitas madu, jadi kami iris tipis-tipis dan endapkan perlahan di atas kain tebal,” jelasnya.

Dalam mengolah minyak buah merah maupun madu, Sumadi dibantu empat pekerja. Hasil olahannya kini sudah dipasarkan ke banyak tempat. Tidak hanya Papua tapi juga Pulau Jawa dan Sulawesi.

Buah merah dijual mulai dari ukuran 250 ml; Rp.75 ribu/botol, juga dengan jerigen 5 liter atau 20 liter. Sumadi melayani pemesanan berapapun jumlahnya. “Meskipun kurang dari 5 botol, yang penting pembeli menyediakan ongkos kirim,” katanya.

Sumadi terdampar di Wamena karena profesinya sebagai seorang guru Madrasah Ibtidaiyah, milik Yapis (Yayasan Pendidikan Islam) di Walesi, Distrik Asolokobal, Kabupaten Jayawijaya. Wilayah ini dikenal memiliki komunitas muslim Papua terbanyak. Semenjak 1985, Sumadi mengabdi di Madrasah tersebut.

Awalnya Sumadi beserta istri dan anaknya menetap di kota, tepatnya di Woma. Namun ketika pecah peristiwa Woma tahun 2000, kerusuhan dan banyak korban dari orang non Papua, Sumadi hijrah ke Walesi.

“Rumah dan semua milik kami terbakar, jadi kami pindah ke Walesi. Mau pulang ke Jawa? untuk apa? Kami harus memulai lagi karena sudah tidak punya apa-apa, hanya pakaian dibadan saat itu,” kenangnya. ”Istri saya masih trauma kalau mengingat peristiwa itu,” ujarnya datar.

Sumadi berusaha untuk terus mengabdi. Mendidik murid-murid madrasah yang merupakan anak asli Walesi sambil menekuni usaha buah merah dan madu asli. “Saya mungkin sampai pensiun di sini,” katanya dengan tatapan kosong. (Tim/AlDP)