Saksi Mendatangi TKP Bersama Aparat TNI

Saksi Mendatangi TKP Bersama Aparat TNI

Sorong-Sidang kasus Aimas kembali digelar dengan agenda pemeriksaan saksi dengan terdakwa Isak Kalaibin dan 6 orang lainnya. Mereka dituduh melakukan makar dalam rumusan pasal 106, pasal 107, pasal 108, pasal 110, pasal 160 dan pasal 164 KUHP.

Saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum(JPU) berasal dari aparat kepolisian.(02/09/2013).

Saksi pertama adalah AIPDA Krisistya Artantyo Octoberna, saat kejadian dirinya berstatus sebagai kasat narkoba Polres Sorong.

Saksi menerangkan bahwa dirinya datang ke TKP sekitar pukul 00.30,”sudah masuk tanggal 1 Mei 2013,” akunya. Saksi melakukan patroli berdasarkan Surat Perintah kapolre Sorong.

“Ada sekitar 11 anggota polisi, 12 anggota TNI dari batalyon dan ada 3 orang BIN, “ terangnya.

Saksi mengatakan bahwa setelah mereka berada di TKP terjadi penyerangan oleh massa sehingga menyebabkan ada yang terluka yakni Pelda Sultoni anggota TNI serta kerusakan pada mobil yang ditumpangi Kabag Ops Polres Sorong.

Sehingga mereka mundur untuk mengamankan diri.

“Saat itu terjadi penyerangan, “jelasnya. Meski demikian saksi tidak melihat Isak Kalaibin dkk.

Ketika ditanya apakah saksi mengetahui ada korban dari masyarakat yang tewas akibat ditembak. Saksi mengatakan tidak mengetahui. Katanya baru diketahui setelah tiba di Polres. Saksi akui sempat mendengar bunyi tembakan sekitar 2 kali.

“Dalam keadaan gelap dan gerimis sehingga saya tidak melihat”.

Saksi Krisistya berkali-kali diberondong pertanyaan oleh 7 orang penasehat hukum Isak Kalaibin. Saksi mengakui saat mendatangi lokasi, tidak melihat ada aksi pengibaran bendera ataupun orasi.

“Dari laporan intelijen kami mendengar ada kegiatan yang bertujuan akan memisahkan diri jadi kami ke sana melakukan operasi,” kilahnya.

Beberapa kali saksi menggunakan bahasa asumsi dan bukan berdasarkan pada apa yang dilihat atau didengar, hal tersebut sempat diingatkan oleh Majelis Hakim.

“Saksi jangan berasumsin atau anggapan, cukup apa yang dilihat dan didengar,” tegas Kristian Kolibu SH yang bertindak sebagai ketua Majelis Hakim.

Terhadap keterangannya,Isak Kalaibin dkk menyatakan keberatan, pertama soal waktu kejadian. Isak meengaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi masih pada tanggal 30 April 2013, sekitar jam 21.00 malam hari.

“Selain itu tidak terjadi penyerangan oleh masyarakat, kami yang diserang sehingga menyebabkan 2 orang meninggal dunia ditempat,” tegasnya.(Tim/AlDP).