Rumah Guru di Kibay Ditinggal Mubasir

Rumah Guru di Kibay Ditinggal Mubasir

Rumah Guru di Kampung Kibay

Keerom-Tiga rumah guru yang dibangun di Kampung Kibay, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom, ditinggal mubasir.

Bangunan berdinding papan itu kini dipenuhi rumput tinggi. “Rumah ini kosong sejak dibangun dua tahun lalu, tidak tahu sekarang mau bagaimana,” kata Frangky Psakor, Kepala Kampung Kibay, pekan lalu.

Ia mengatakan, sekolah dasar di Kibay tak punya guru. Alhasil, rumah guru ditempati pekerja perusahaan. “Tapi jarang, mereka hanya datang untuk tidur saja, rumah itu punya listrik dan air yang cukup, bangunannya bagus, tapi kotor,” kata Psakor.

Dari pantauan ALDP, rumah panggung itu sudah dilengkapi dengan fasilitas cukup. Ada kursi juga meja. Jendelanya bahkan ditutup menggunakan kain yang direnda halus. Rumah itu memiliki sebuah teras kecil, sebuah ruang tamu, kamar tidur, dapur dan ruang tengah. Dibagian belakang, dibuat kamar mandi.

Rumah tersebut terletak di ujung kampung, tidak jauh dari hunian penduduk. Sebelahnya SD Kibay. “Sekarang penuh rumput, tidak ada yang bersihkan, kasihan,” kata Psakor. Ia berharap rumah guru segera terisi. “Sekolah kalau tidak ada guru, tidak jalan, kalau bisa, guru segera didatangkan,” katanya lagi.

Penduduk asli Kibay sebanyak 121 Kepala Keluarga. Mereka tersebar di beberapa kampung dan Distrik Arso. Sedangkan yang tinggal di kampung Kibay sebanyak 42 KK atau 463 jiwa.

Kampung Kibay berbatasan dengan Schotohiao di bagian timur, salah satu Kampung perbatasan di Papua Nugini. Selanjutnya Kampung Wembi di bagian barat, Yetty di utara dan Kampung Ampas di bagian selatan. Luas Kibay mencapai 3 hektar.

Kibay artinya ‘anak pertama’. Orang Kibay berasal dari suku Manam. Suku besar Manam mendiami Kibay, Kampung Wembi, Uskwar, Kriku dan Kampung Yetty di Distrik Arso Timur. (Tim/ALDP)