Relasi Pendatang dan Papua Memburuk
Suasana Diskusi Kelompok Kajian Indikator Papua Tanah Damai di Manokwari

Relasi Pendatang dan Papua Memburuk

Nabire – Ruben Lanny, peserta Forum Kajian Indikator Papua Tanah Damai yang digelar Aliansi Demokrasi untuk Papua dan Jaringan Damai Papua di Nabire, pekan lalu mengatakan, relasi antara penduduk asli dan non pribumi akhir-akhir ini memburuk. Istilah ‘pendatang’ dan ‘Papua’ justru menjadi pemicu masalah.

“Hubungan yang dulu harmonis, sudah mulai terbatas. Hal ini terjadi karena ada provokasi yang tidak bertanggungjawab diantara masyarakat Papua dan pendatang. sehingga kita tidak tenang,” katanya.

Hal sama diakui oleh salah seorang peserta asal Seram yang berprofesi sebagai PNS. “Jangankan di masyarakat, di kantor-kantor pemerintah juga begitu. Dulu kami kami rukun, kalau kita saling menyapa sambil pegang tangan, tarik tangan tapi sekarang sudah tidak lagi,” ujarnya.

Menurut Ruben, baru-baru ini digelar pertemuan antara warga dan pihak keamanan, saat kunjungan Kapolda Papua Irjen Pol Tito Karnavian dan Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Drs. Christian Zebua ke Nabire untuk membahas kondisi daerah itu.

“Kita semua diminta untuk menjaga Nabire agar tetap aman. Apalagi suasana menjelang 1 desember kadang membuat masyarakat khususnya pendatang kurang tenang untuk melaksanakan aktifitas dengan baik,” paparnya.

Peserta Forum Kajian menyadari, relasi yang buruk itu apabila tidak diatasi akan makin berbahaya. Pihak lain bisa memprovokasi timbulnya konflik dan perasaan permusuhan.

“Misalnya saat tukang ojek terbunuh dari pendatang, kemudian muncul gambarnya di HP-HP, Nabire jadi sepi dan aktiftas masyarakat sehari-hari makin terganggu,” ucapnya.

Ruben Lanny mengajak semua pihak memikirkan bersama untuk mengatasi relasi yang buruk. “Hubungan harus harmonis kembali antara Papua dan Pendatang,” pungkasnya. (Tim/AlDP)