Relasi Antara Papua dan Pendatang Telah Berubah
Ilustrasi

Relasi Antara Papua dan Pendatang Telah Berubah

Timika – Sulidjo, peserta Forum Kajian Indikator Papua Tanah Damai yang digelar Aliansi Demokrasi untuk Papua dan Jaringan Damai Papua di Timika, Selasa kemarin mengatakan, situasi di Papua saat ini berbeda. Ada perubahan relasi antara orang Papua dan pendatang yang disebut Sulidjo dengan istilah ‘masyarakat umum’.

“Waktu saya kecil dan SD di Nimbokrang, saya dan teman-teman anak Papua tidak ada perbedaan. Ke hutan manjat matoa, ambil kelapa sama-sama. Tidak ada pemisah, tidak ada istilah asli dan pendatang. Sehingga lebih familiar dan mendekati satu sama yang lain. Kadang diantara kami adalah masyarakat lokal dan masyarakat umum, bukan asli dan tidak asli,” kata Sulidjo, alumni Universitas Cenderawasih, Selasa lalu.

Guru sastra dan bahasa di SMA Negeri 1 Timika itu menambahkan ia adalah orang Papua. “Saya merasa orang Papua, orang tua dan adik saya meninggal di Manokwari,” ujarnya.

Yani dari BKMT Kota Timika membenarkan hal tersebut. “Sekarang anak-anak yang bersekolah mendapatkan diskriminasi cukup besar. Ada perbedaan kebijakan antara Papua dan pendatang, di bidang olahraga, juga dikesempatan kerja,” katanya.

Menurutnya, dimana langit dipijak di situ bumi dijunjung. “Saya katakan kita orang Papua. Anak saya lahir di Papua dan diberikan nama Iriani, tapi orang Papua tidak mau terima kita,” ucapnya.

“Bagaimana kami bisa berinteraksi kalau orang Papua membuat  gap yang lebar dalam segala kegiatan,” tambahnya.

Peserta forum lainnya juga mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap sikap penegak hukum. “Kalau korbannya orang Papua aparat cepat sekali bergerak tapi kalau korbannya pendatang, aparat seperti takut atau ragu-ragu”.

Di bagian akhir diskusi, para peserta sepakat bahwa apabila Papua ingin dijadikan tanah damai maka semua orang harus merasa sama dan bersatu.

“Semua orang ingin damai, kalau kita ingin damai maka kita harus saling menghargai sebagai sesama manusia. Apapun sukunya, semua makhluk ciptaan tuhan. Apa yang kita rasakan mereka turut merasakan dan sebaliknya. Harus saling menerima satu sama lain sehingga kita akan dapat memperbaiki relasi yang ada,” kata Ibu Syahriati. (Tim/AlDP)