Pulau Doom Kota Tua di Sorong

Pulau Doom Sorong

Sorong-Ada yang sudah pernah mendengar Pulau Doom? Jika belum, wajar karena pulau ini tidak begitu terekspos oleh media yang ada.  Belanda banyak meninggalkan sejarah di sana saat menjajah Indonesia. Nampak kecerdasan Belanda menata pulau dengan lingkar luas 4,5 kilometer menjadi satu kota yang indah.

Orang dapat berkeliling di Pulau Doom dengan menggunakan becak, hanya dalam hitungan sekitar  satu jam dan membayar Rp.25 ribu. Karena pulau Doom tidak begitu luas, beberapa pemuda dan laki-laki, jarang menggunakan jasa pengayuh becak dan memilih berjalan kaki saja.

Untuk memenuhi kebutuhannya, kini masyarakat Pulau Doom harus berbelanja ke Sorong dengan menggunakan perahu bermotor. Jarak tempuh sekitar 15 menit dan membayar Rp.5.000. Ketika pulang kembali, sudah diserbu oleh belasan pengayuh becak yang akan mengantar mereka pulang ke rumah. Becak menjadi sarana transportasi di Pulau Doom.

Pulau Doom dahulunya adalah pusat pemerintahan Onderafdeling Raja Ampat, Papua. Belanda menempatkan Pulau Doom sebagai pusat kota, karena itu saat kota Sorong masih gelap tanpa aliran listrik, Pulau Doom telah bersinar lebih dulu. Orang pun menyebutnya dengan Pulau Bintang karena gemerlapnya listrik di Pulau Doom.

Apa saja keindahan Pulau Bintang ini?.Terlihat dari pengamatan kami dan juga penuturan beberapa warga setempat,  saat itu Belanda menata kota ini dengan rapi. Perumahan berderet berjajar dan rapi. Tak hanya perumahan, infrastruktur pun lengkap ada di Pulau Doom. Sumur air dengan pipa mengaliri sepanjang rumah-rumah. Namun kini, dengan adanya bangunan rumah-rumah baru, perlahan kerapian Pulau Doom terlihat memudar.

Apa saja yang ditawarkan oleh  Pulau Doom?.  Ada lapangan sepak bola dan Gedung Kesenian yang merupakan lokasi serdadu Belanda berolah raga. Ada yang bermain tennis, berenang dan berdansa. Belanda menjadikan Pulau Doom sebagai pusat perdagangan dan gudang juga sebagai pelabuhan yang terkenal pada masa itu.

Selain itu  ada gereja Orange, berarsitektur klasik yang dibangun Belanda pada tahun 1911. Kini telah beralih fungsi menjadi Pusat Pembinaan Warga Gereja Jemaat Bethel Doom.

Selain Belanda, Jepang rupanya juga meninggalkan jejak di Pulau Doom. Jika Belanda meninggalkan bangunan-bangunan tua, Jepang membangun banyak lorong bawah tanah di Pulau Doom selama Perang Dunia II. Lorong yang berfungsi sebagai bunker pertahanan tentara Jepang dari serbuan musuh juga terhubung dengan pelabuhan.

Andaikan Pemerintah mau menata baik kota-kota tua yang ada di Papua seperti Pulau Doom mungkin menjadi obyek wisata yang menarik bagi setiap orang dan tentunya mendatangkan pendapatan untuk pemerintah dan terutama bagi masyarakat setempat.

Seperti apa yang dilakukan oleh negara lain seperti di Eropa ditengah arus moderinisasi pembangunan mereka tidak “menghabisi” bangunan-bangunan sejarah yang mereka miliki.  Mereka menyakini bahwa bangsa yang baik adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya, sebagai cermin kekuatan bangsanya. (Tim/AlDP)