Prof Hetaria : Defenisi Makar Terlalu Luas

20170822_144105Jakarta-Istilah “makar” dalam KUHP kita diterjemahkan dari istilah Belanda “aanslag”. Istilah aanslag dalam KUHP Belanda yang kemudian disalin menjadi KUHP Indonesia dipengaruhi oleh sejarah revolusi Rusia. Pada tahun 1917, terjadi revolusi Bolshevik komunis di Rusia dipimpin oleh Lenin. Tzar Nicholas II dan seluruh keluarganya, istri, anak, dokter pribadi, koki-kokinya dibantai oleh komunis 17 juli 1918.

Istilah aanslag diterjemahkan kemudian dengan makar dalam KUHP Indonesia.

Demikian keterangan Prof Melkias Hetaria saat menjadi ahil pada sidang Judicial review Pasal-Pasal Makar di Mahkamah Konstitusi(22/08/2017).

Lanjutnya, “Pasal-pasal makar ini digunakan dalam jaman Orde Baru, sehingga apabila hanya ada satu unsur saja yakni  niat atau maksud saja, maka yang bersangkutan dapat ditangkap dan diajukan ke pengadilan dengan tuduhan makar atas kerja intelijen yang canggih”.

Terhadap defenisi ini, Prof Hetaria berbeda pendapat sebab menurutnya seharusnya ketiga unsur dari makar terpenuhi secara bersama-sama yakni ada niat, perbuatan pelaksanaan dan terhentinya peristiwa tersebut bukan atas kehendak dirinya(orang yang melakukan).

Menurutnya tujuan dibuatnya pasal makar itu adalah untuk mencegah dan memberantas para pelaku kudeta atau revolusi terhadap pemerintah negara yang sah. Tujuan ini sungguh mulia, namun pasal makar itu apabila diterapkan, maka akan bertentangan dengan HAM yang dilindungi dalam UUD 1945 sehingga mengguncang sendi-sendi keadilan.

“karena pasal makar tersebut selain ditafsirkan keliru, juga digunakan untuk menindak perbuatan yang belum memenuhi kualifikasi percobaan (poging), termasuk permufakatan jahat yang seharusnya berada dalam wilayah moral yang tidak boleh disentuh oleh hukum pidana”, jelasnya.

“kalau baru niat saja, ada pikiran orang. Orang berdiskusi tentang pemerintahan yang lebih maka dikatakan makar menurut saya tidak tepat”, tegasnya.

“Hukum pidana kita terlalu jauh sampai memasuk hukum moral”

Selain itu arti makar dalam kamus bahasa Indonesia terlalu luas.

“Ada 3 defenisi yakni akal busuk; tipu muslihat; perbuatan (usaha) dengan maksud hendak menyerang (membunuh) orang, dan sebagainya; 3 perbuatan (usaha) menjatuhkan pemerintah yang sah.  Jadi, kita pun harus menyamakan defenisi terhadap kata makar,” tegasnya.(AlDP).