Praktek Penyiksaan Masih Dilakukan Pada Peristiwa di Kampung Wara-Wamena

IMG_1866Andawat-Praktek penyiksaan masih sulit untuk dihindari oleh aparat kepolisian saat melakukan penangkapan terhadap warga sipil. Setidaknya itulah yang terjadi pada Dperistiwa di Kampung Sasawa distrik Kosiwo kabupaten Yapen Waropen pada awal Pebruari 2014 dan diduga kuat terjadi pula di kampung Wara distrik Pisugi Kabupaten Jayawijaya pada tanggal 12 Juli 2014.

Pada pukul 04.00 WIT dinihari, aparat gabungan TNI dan POLRI mendatangani dan melakukan penyisiran di kampung itu. 13 (tiga belas) orang ditangkap tanpa tuduhan yang jelas. Awalnya ada info bahwa mereka akan melakukan boikot Pilpres atas nama kelompok KNPB namun pada kenyataannya Pilpres telah berjalan aman. Kemudian mereka dituduh membuat bahan peledak. Mereka 13 orang tersebut adalah : Yosep Siep, Karlos Alua, Saulus Sorabut, Pius Sorabut, Yance Walilo, Yos Pahika, Yorasam Sorabut, Wilem Hubi, Anas Walilo, Marsel Marian, Ardis Wilil, Aila Alua dan Beni Wilil. Setelah itu Polisi sekitar pukul 09.00 WIT polisi kembali menangkap 5(lima) orang lainnya. Saat mereka ditangkap, Polisi tidak memberikan Surat Perintah Penangkapan.

Tak hanya menangkap mereka, aparat juga merusak barang-barang milik warga,seperti merusak noken-noken hasil kerajinan keluarga Josep Siep yang siap untuk dijual sebanyak 15(lima belas) noken, ternak warga yakni babi, dilukai dengan parang kemudian dibiarkan, menumpahkan beras satu karung milik keluarga Josep Siep selain itu mereka juga mengancam untuk membakar rumah Josep Siep dan Yance Walilo.

Istri Josep Siep dipukul pada bagian telingamya sehingga pendengarannya menjadi rusak, nasib yang sama dialami oleh ibu Ape Wetipo yang dipukul dagunya hingga sakit dan tidak dapat makan secara normal. Istri Yance Walilo dipaksa keluar dari honai yang lebih dulu telah dirusak oleh aparat dan disuruh duduk mengangkang di depan honainya.

Mereka yang ditangkap diperlakukan tidak manusiawi, tangan mereka diikat dengan tali jemuran sambung menyambung dan diseret dalam got/parit hingga ke jalan besar untuk dinaikkan ke mobil jenis Strada. Demikian juga perlakuan terhadap 5(lima) orang yang ditangkap kemudian. Leher dan tangan mereka diikat dengan tali sejenis nelon sambung menyambung sehingga ketika satu orang terjatuh maka yang lainnya ikut jatuh. Mereka dipukul dengan popor senjata, seperti yang dialami oleh Ibrahim Marian hingga dirinya langsung jatuh pingsan lantas dibuang aparat ke dalam got/parit. Nasib yang sama juga dialami oleh Yeri Walilo yang dipukul berkali-kali di sekitar telinganya hingga pendengarannya tidak berfungsi lagi. Seorang anggota Brimob menendang Novi Alua berkali-kali di bagian dadanya hingga mengalami kesulitan dalam bernapas. Ada juga yang diancam akan dipotong dengan sangkur.

Mereka dibawa dan diperiksa di Polres Jayawijaya di Wamena dalam kondisi masih mengalami penyiksaan. Pertanyaan yang diajukan diselingi dengan pukulan, tendangan sepatu lars dan juga disetrum. Polisi memukul jempol kaki, kepala dan tulang belakang mereka dengan palu. Bahkan ada yang mengalami kerusakan/patah tulang rusuk akibat dipukul dengan palu dan kini menjalani pengobatan tradisional di kampungnya. Kemudian pada hari keempat, 13(tiga belas) orang disuruh pulang dan polisi menetapkan 5(lima orang) sebagai Tersangka yakni Josep Siep, Jali Walilo, Ibrahim Marian, John Marian dan Marcel Marian.

Kesedihan mereka belum usai sebab hak keluarga untuk membezuk dan mengantar makanan sangat dibatasi. Kadang makanan yang diantar dibiarkan berjam-jam di bagian penjagaan tahanan dan keluarga yang datang tidak diperlakukan secara manusiawi. Hingga kini mereka masih mendekam di tahanan Polres Jayawijaya. Pada tanggal 27 Agustus 2014, pihak keluarga meminta AlDP untuk mendampingi kasus mereka.

Mereka dituduh dengan pasal 187 Ayat(1) KUHP Subsider Pasal 187 Bis Ayat(1) KUHP Lebih Subsider Pasal 187 ter KUHP dan Pasal 164 KUHP. Tuduhan Primernya ada pada Pasal 187 Ayat(1) KUHP terkait dengan bahan peledak, secara lengkap bunyi pasalnya sebagai berikut :

“Barang siapa dengan sengaja menimbulkan kebakaran, ledakan atau banjir, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun, jika karena perbuatan tersebut di atas timbul bahaya umum bagi barang.”

 

Pakar hukum S.R. Sianturi, S.H., dalam bukunya yang berjudul Tindak Pidana di KUHP Berikut Uraiannya menjelaskan bahwa delik(tindak pidana) yang tremuat dalam pasal 187 Ayat(1) KUHP adalah delik sengaja yang hanya mencakupi perbuatannya (handeling) yaitu sengaja mengadakan kebakaran, sengaja melakukan ledakan atau sengaja menimbulkan banjir. Namun hingga kini, belum dapat diungkapkan dengan jelas oleh pihak Kepolisian apa yang dimaksudkan dengan bahan peledak yang dimiliki dengan sengaja oleh Josep Siep dk ataupun uraian peristiwa mengenai permufakatan jahat untuk melakukan salah satu kejahatan yang disebut dalam Pasal 187 dan 187 Bis KUHP(vide pasal 187 ter KUHP).