Petugas Kurang, LP Sorong Tak Seimbang

Petugas Kurang, LP Sorong Tak Seimbang

LP Klas II B Kota Sorong

Sorong – Bagi sebuah Lembaga Pemasyarakatan, kondisi ideal jumlah pengamanan dan napi adalah seorang petugas menangani lima orang terpidana. Jika kondisi ini terlampau jauh, dapat berakibat pada kasus pelarian napi.

Inilah yang terjadi di Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Kota Sorong. “Kita tidak seimbang, petugas kita hanya sekitar tujuh puluh, itu sudah dibagi dua, yaitu untuk staf dan pengamanan, ini tidak sebanding,” kata Jevius J. Siathen, Pelaksana Tugas Kepala Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Kota Sorong, kemarin.

Ia mengatakan, petugas yang berjaga bergantian tiap beberapa jam. “Ada yang pagi sampai siang, siang sampe malam, dan malam sampe pagi. Jumlah kita sedikit, jadi pakai system roling,” ujarnya.

Menurut dia, perlu ada penambahan petugas untuk memaksimalkan penjagaan. “Sebenarnya perlu direkrut lagi, kalau bagi saya, ini kembali pada pendekatan, biar petugas kurang, tapi kalau napi semuanya tak ingin lari, itulah keberhasilan kita,” ujarnya.

Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Sorong, dibangun tahun 1995. Saat pertama didirikan, hanya baru ada sebuah kantor berlantai dua seluas 220 meter persegi. Sebuah ruang keamanan dan pengelola, bangunan konsultasi dan kunjungan, sebuah dapur dan tempat mencuci, serta tembok keliling yang dipasang kawat berduri. Ada juga pos jaga diatas tembok dan lampu sorot.

LP Sorong pernah diwarnai kasus pelarian napi. Ada pula usaha penyeludupan ganja ke dalam lapas. Peristiwa itu terjadi pada pertengahan September 2012. Polisi masih mengejar tersangka (diduga seorang wanita).

Lapas Sorong terletak jauh dari tengah kota Sorong. “Pengembangan lapas terus dilakukan, ya tapi harus diakui juga, kita kurang diklat (pendidikan dan latihan) bagi petugas, kalau ada diklat, mental petugas dapat lebih siap,” kata Siathen. (tim/Sorong)