Perusahaan Diduga Memprovokasi Warga Degeuwo

Jayapura–Dewan Adat Daerah Kabupaten Paniai, menuding perusahaan tambang emas di Degeuwo telah memprovokasi masyarakat pemilik tanah hingga berujung pada saling beda paham antara mereka.

“Ada dugaan propaganda, sekarang ini situasinya semua terpecah, ada yang mendukung Degeuwo menjadi Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) dan ada yang menginginkan penertiban, dua kubu ini berdiri dengan posisinya masing-masing,” kata John Gobai, Ketua DAD Paniai, Jumat.

Ia mengatakan, pihaknya tidak berpihak pada perusahaan. Namun lebih memilih agar Degeuwo dijadikan Wilayah Pertambangan Rakyat. “Jangan kita pilih penertiban, kalau penertiban, sudah dari dulu pemerintah Paniai melakukan itu, tapi nyatanya apa, masih tetap seperti begitu saja, sampai kapan bisa ditertibkan,” ujarnya.

DAD Paniai telah menyampaikan usulan pembentukan WPR kepada Dinas Pertambangan Propinsi Papua. Namun jawaban yang didapat yakni pihaknya diminta menunggu karena harus melalui prosedur birokrasi yang panjang. “Alasannya juga karena Degeuwo masuk dalam hutan lindung, yang kami pertanyakan adalah, kalau berada di hutan lindung, mengapa sejak 2003, hutan tetap dibongkar dan tanah digali untuk mencari emas, ini sama dengan merusak lingkungan,” ucapnya.

Alasan masuk kawasan hutan lindung, kata dia, tidak tepat. “Saya kira karena berada di hutan lindung itulah, maka perlu adanya WPR, dengan WPR, semua menjadi sah dan teratur, kalau sekarang, penertiban itu tak menjamin hutan akan terjaga dengan baik.

Perusahaan yang beroperasi di Degeuwo diantaranya PT Martha Mining atau Salomo Mining dengan luas areal 28 hektar, CV Komputer, 50 hektar, dan PT Madinah Qurrata Ain, 40 hektar. Sedangkan di Komopa, Distrik Agadide, PT Kotabara beroprasi di lahan seluas 21.000 hektar

Ketiga perusahaan ini mendapat ijin produksi dari pemerintah Paniai berdasar UU 4 Tahun 2009 dan Perda Paniai Nomor 16 Tahun 2009. “PT Madinah sekarang sudah tidak beroperasi, kita sudah tutup,” kata John

Tambang emas di Degeuwo disebut menyumbang sebesar Rp 19 miliar bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Paniai di tahun 2012. Pada tahun 2010, PAD yang didapat dari Degeuwo sebesar Rp11 miliar, meningkat di 2011 sebesar Rp15 miliar dan diperkirakan akan terus menanjak pada satu tahun ke depan.  (02/AlDP)

  • karbon aktif

    terima kasih bos untuk infonya,salamkenal.”karbon aktif”