Persipura dan Membangun Papua

Tim Persipura Jayapura

Andawat– Kemenangan Persipura atas Persisam yang di siarkan live oleh salah satu TV swasta tak pelak membawa gegap gempita dan suka cita oleh seluruh rakyat Papua , suara terompet, petasan dan gemuruh  kenderaan roda dua dan roda empat adalah salah satu pemandangan yang kita jumpai di seluruh sepanjang jalan raya abepura hingga Jayapura, tua –muda dan anak-anak tumpah ruah di jalan bahkan ada yang berlari-lari tanpa mengenakan baju dengan  hanya membawa bekal sebotol air Aqua . sungguh menakjubkan, mereka tanpa lelah meneriakan yel-yel  persipura dan  Papua. We are Papuan sebuah kata yang tepat yang ingin menujukkan kepada seluruh negeri ini bahwa mereka bisa  keluar sebagai juara liga Indonesia untuk kesekian kalinya dengan bermain sportif. Sepakbola begitu di gilai di seantero Papua. Sepak bola tidak hanya di maknai sebagai olah raga saja namun jauh dari itu sebagai pemaknaan akan jati diri orang Papua. Sepak bola dan nasionalisme sebagai orang Papua begitu kuat dan mendarah daging di setiap diri pemain dan pendukungnya, Atmosfir akan suasana itu kita  rasakan dan lihat setiap kali Persipura menjalani pertandingan home nya di Stadion Mandala.

Ada pemandangan menarik ketika melihat beberapa asrama mahasiswa dari Timika, Nabire, Manokwari  serta asrama mahasiswa lainnya  turut  larut dalam suka cita kemenangan Persipura. Yang menarik adalah pertama, Persipura adalah representasi  Papua  atau saya ingin katakan Persipura adalah Papua.  Kemenangan Persipura bukan hanya untuk orang Jayapura tapi juga untuk seluruh suku dan wilayah yang ada di Papua . kedua, kemenangan Persipura bisa menjadi  instrument rekonsiliasi untuk menyatukan satu hati antara Papua dan Non Papua (Amber) , ini bisa kita saksikan beberapa masyarakat bugis-makassar yang mendiami wilayah pasar lama dan Pasar baru  juga turut larut dalam pesta  kemenangan Persipura.  persipura yang bisa mengangkat harkat martabat, memuaskan dahaga haus  dari kekalahaan demi kekalahan dari  Jakarta serta bangga menjadi orang Papua di tengah kacau balaunya situasi sosial politik di tanah Papua .

Peristiwa terakhir adalah takkala pemerintah pusat membagi dua Majelis Rakyat Papua (MRP) yang konon katanya pada saat proses pengusulan hingga pembentukannnya badan intelijen bermain all out dan mengontrol  semua prosesnya. Mendengar akan hal itu sungguh naïf jika  itu benar terjadi. Apakah ini bagian dari  ketakutan yang berlebihan  atau paranoid? Bagi saya biarkan Papua berkembang sesuai dengan akselerasi, karakterisitik dan potensi yang mereka miliki tanpa harus mengintervensi yang justru semakin  memperburuk citra pemerintah pusat di mata orang Papua. Membangun Papua dengan memberikan peluang dan kesempatan tanpa harus mendikte atau intervensi pastinya akan membuahkan “emas” contohnya Persipura yang hampir sebagian besar skuadnya di isi oleh anak-anak Papua. Kerjasama dan  koordinasi tim  menciptakan balancing tim, aktraktif dan mempesona ternyata membuahkan tinta emas dalam dunia persepak bolaan di wilayah nusantara ini.

Mereka berprestasi karena di berikan ruang kesempatan dan kepercayaan.  Kepercayaan menjadi  sesuatu yang begitu sulit untuk di raih saat ini. karena selama ini ruang trust tidak pernah di berikan pemaknaan mendalam tentang seperti apa  pola komunikasi politik yang harus di tempuh untuk di carikan penyelesaiannya. Terkait dengan hal itu  dalam Laporan penelitian yang di keluarkan oleh Imparsial menyebutkan bahwa relasi Jakarta-Papua diselimuti oleh ketidakpercayaan dan sikap saling mencurigai. Pusat misalnya, mencurigai setiap gerak separatisme di Papua. Begitu juga sebaliknya, Papua melihat Jakarta penuh tipu. Persoalan sikap yang saling mencurigai dan ketidakpercayaan ini tidak muncul dari ruang kosong. Di antaranya hal itu tumbuh akibat dari problem sekuritisasi persoalan Papua dan berbagai dampak yang ditimbulkannya.

Untuk membangun Papua hendaknya pemerintah harus belajar dari  Persipura tentang bagaiamana cara mengambil hati orang Papua dengan bukti kongkrit yang mereka persembahkan untuk seluruh orang Papua. Tidak dengan defisit bukti dan hanya surplus janji. Dan yang terpenting dari semua itu adalah mengeliminasi stigma separatis dari kehidupan sosial politik di tanah Papua. Selamat Persipura, Persipura Untuk Papua. (Andawat/AlDP)