Perputaran Uang ‘Macet’, Pedagang Kecewa

Boven Digoel – Sejumlah pedagang di Tanah Merah, Boven Digoel kecewa perputaran uang tersendat. Barang jualan tak laku dan dibuang percuma. “Saya mau bandingkan, dulu yang masuk warung saya dan makan, itu 50 tiap hari, sekarang hanya lima orang,” kata Pakde Warung Dua Dua, belum lama ini.

Ia mengatakan, saking sepinya pembeli, ia merugi hingga jutaan rupiah perhari. “Sekarang banyak lauk dibuang, dulu, biar masaknya banyak, langsung habis. Kadang diborong juga oleh pegawai di kantor kantor,” ujarnya.

Pembeli kata dia tak punya cukup uang untuk berbelanja. “Perputaran uang macet. Semua kontraktor lagi diam, lihat saja pekerjaan jalan stop, itu karena apa, ya pemerintahan tidak jalan,” ucapnya.

Amirudin, pemilik sebuah toko di Tanah Merah mengatakan, uang dari Boven Digoel lebih banyak mengalir ke luar. “Dulu seratus ribu bisa kita dapat sehari, sekarang susahnya minta ampun,” kata dia.

Menurut dia, kondisi Boven Digoel saat ini mirip sebelum dimekarkan pada tahun 2000. “Itulah yang sekarang dituntut masyarakat, uang hanya beredar terbatas. Kalau ini tidak segera diantisipasi, yang kena orang kecil,” katanya.

Yusri, warga Tanah Merah mengungkapkan, perputaran uang yang tidak normal, malah dimanfaatkan pejabat dengan membangun rumah mewah. “Itu dari mana kalau bukan korupsi. Kita disini cari uang susah, syukur mereka yang punya kebun, tinggal ambil saja hasilnya, kalau pengusaha, menunggu pembeli yang tidak pasti tiap hari ada atau tidak,” katanya.

Boven Digoel lanjutnya, mengalami deflasi karena kurangnya jumlah uang yang beredar. Sementara permintaan berdasarkan jumlah uang yang berada di masyarakat begitu tinggi. “Begitulah, kita tidak bisa buat apa-apa,” katanya.

Didalam deflasi, kontraksi dari persediaan uang akan membuat berkurangnya kecepatan perputaran uang. Ini mengakibatan jumlah transaksi menurun dan jatuhnya harga barang dan jasa secara umum.

Penyebab deflasi diantaranya menurunnya persediaan uang, meningkatnya persediaan barang, menurunnya permintaan akan barang dan naiknya permintaan akan uang. (02/ALDP)