Perintis LP Timika Minta Penghargaan Pemerintah
Ilustrasi HIV AIDS

Perintis LP Timika Minta Penghargaan Pemerintah

Timika – Bergelut belasan tahun dalam dunia Lapas, merupakan karya luar biasa yang tidak banyak dilakukan orang. Sebut saja mereka para ‘pejuang Lapas’.

“Kalau suka, itu tidak ada, yang lebih banyak dukanya,” kata Martinus Nuboba, Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Lapas Klas II B Timika, Sabtu.

Nuboba masuk dunia Lapas sejak tahun 1992. Ia pertama kali ditempatkan di Tanah Merah, Boven Digoel. Sepuluh tahun didaerah bekas markas tentara Belanda itu, Nuboba kemudian dipindahtugaskan ke Serui. “Setelah itu baru kemudian saya ke Timika. Kita yang rintis LP ini, ada sekitar enam orang bersama dengan yang lain,” ujarnya.

LP Timika, jauh dari pemukiman warga. Letaknya di Satuan Pemukiman V Jalan Iwaka, Timika. Tidak banyak pengunjung ke LP itu. “Jaraknya sekitar setengah jam dari kota, jauh juga, untung kita disini ada perumahan pegawai lapas, kalau tidak, harus bolak balik ke kota tiap hari,” ucap Nuboba

Napi LP Timika sebanyak 120 penghuni. Mereka menempati ruang sel sekitar 4×3 meter untuk beberapa orang. Tiap pagi, setelah bangun tidur, mereka akan sarapan dan kemudian beraktifitas. “Ada yang main kartu atau ibadah, ada yang bikin kebun, macam-macamlah, belum ada program rutin untuk mereka,” katanya lagi.

Nuboba sendiri saban hari menjaga napi. Sebagai Kepala Pengamanan, tak sedetikpun ia meninggalkan Lapas. “Kecuali pulang sebentar lihat keluarga, setelah itu balik lagi, tiap hari begini saja.”

Ia meminta pemerintah agar memperhatikan para pegawai Lapas yang sudah puluhan tahun bekerja namun tak memperoleh apa-apa. “Kalau bisa ada penghargaan, kita tidak minta banyak. Kita sudah tidak bisa kaya, inilah profesi dan tugas kita,” pungkasnya. (JO/Jayapura)