Penyiksaan : Terstruktur Ataukah Kasuistis?

Penyiksaan : Terstruktur Ataukah Kasuistis?

Serui : Semua Tersangka  Ketika Ditangkap, Disiksa

Serui- Para Tersangka pada peristiwa tanggal 1 Pebruari 2014 sebanyak 6 orang yang hingga kini masih ditahan yakni Salmon Windesi, Peneas Reri, Kornelius Woniana, Obeth Kayoi,Rudi Otis Barangkea, dan Jimmi Yeremias Kapanai serta 1 yang sudah dilepas(Septinus Wororai) dan 2 orang tanggal 28 Pebruari 2014 di Angkaisera Menawi yakni Wondiwoi dan  Piter Merani mengalami penyiksaan mulai saat ditangkap hingga menjalani pemeriksaan. Pernyataan itu disampaikan dalam catatan tulisan tangan kepada Tim Penasehat Hukum yang merupakan gabungan Pengacara dari AlDP dan LBH Papua.

Salmon Windesi(48 tahun), nelayan, ditangkap 1 Pebruari 2014, beralamat di kampung Fafado distrik Risei Warpoen Tengah mengatakan bahwa saat menyerahkan  diri dan ditangkap, dirinya ditendang dan dipukul oleh anggota Polisi dan tentara. Dirinya disuruh tidur tengkurap dengan tangan diikat.

“Saya diikat dengan satu tali bersama dengan teman-teman yang lain, jadi seperti rantai yang bersambung. Setelah diikat, kami disuruh merayap dari sampng rumah ke halaman depan. Dipukul lagi oleh polisi dan tentara”.

“karena diikat bersama-sama maka tangan kami melepuh seperti tersiram air panas”.

Menurt pengakuannya ketika sampai di polres mereka disambut dengan pukulan dan tendagan yang bertubi-tubi bahkan sampai ketika di ruangan serse.

“Ketika itu kepala saya dipukul dengan pistol dari otak belakang dan terjadi luka  ,akhirnya saya pusing dan jatuh, masih tetap ditendang lagi di rusuk sebelah kiri. Sambil menjalani pemeriksaan,dirinya tidak berhenti dipukul dan ditendang.

Peneas Reri,(34 tahun), guru honorer, ditangkap 1 Pebruari 2014 beralamat di kampung Fafado distrik Risei Warpoen Tengah, mengatakan saat ditangkap dirinya langsung ditendang dari rusuk sebelah kiri dan kanan sehingga jatih tergeletak di atas tanah.

“2 anggota polisi dan satu anggota tentara memukul dan menendang saya secara bergantian dan salah satu tentara , setrum saya di mulut. Tangan saya diikat ke belakang dan saya diestrum berulang-ulang”.

Menurutnya dalam keadaan seperti itu salah seorang anggota polisi meraba saku celananya, “Dia mengambil uang saya sebanyak 900 ribu dan 2 HP saya”. Saat menjalani pemeriksaan dirinya dipukul dan ditendang berkali-kali.

Jimmi Yermias Kapanai (29 tahun), supir, ditangkap 1 pebruari 2014, kampung Ariepi kepulauan Yapen. Dirinya dipukul dan ditendang juga diinjak hingga telinganya mengeluarkan darah. Kemudian kepalanya ditoki/diketok dengan pistol hingga bocor dan matanya ikut berdarah.

“Sampai di Polres kami tetap dipukul dan ditendang, kemudian diseret ke ruang serse. Saya juga disetrum dan dipukul dengan sandal, kemudian tangan tetap diikat”.

 Rudi Otis Barangkea(31 tahun) petani, ditangkap 1 pebruari 2014, alamat kampung Ariepi Distrik Kosiwo kabupaten Kepulauan Yapen menyatakan bahwa dirinya  mengalami penyiksaan,dipukul dan tangan diikat ke belakang  kemudian dipaksa  merayap  diatas tanah.

“Saya juga disetrum dan dipukul hingga berdarah. Sewaktu diatas mobil truk menuju Polres, seorang anggota TNI mencabut sangkur dan menaruh ke pipi dan leher.

“Saya iris lehermu biar putus, kata anggota TNI itu, “ katanya.

Sesampai di Polres dirinya tetap kena tendang dan pukul hingga menjalani pemeriksaan, terus mendapatkan pukulan dan tendangan.

2  Tersangka lainnya yakni Obeth Kayoi(25 tahun) kondektru Damri, ditangkap 1 pebruari 2014,  beralamat di kampung Sasawa distrik Kosiwo dan Cornelius Woniana, (50 tahun)  ditangkap 1 Pebruari 2014 beralamat di kampung Papuma distrik Kosiwo  juga mengalami penyiksaan yang sama, tangan mereka diikat bersamaan, dipukul, ditendang berkali-kali mulai saat ditangkap sampai saat menjalani  pemeriksaan di Serse Polres Kep Yapen.

Piter Merani,(48 tahun),tidak ada pekerjaan, ditangkap 28 Pebruari 2014, beralamat di Konti Menawi. Mengalami penyiksaan sejak di pelabuhan Serui. Di Polres Yapen dirinya dipukul dan ditendang, mulut ,dada dan kepalanya ditumbuk hingga mengeluarkan darah.

Seorang anggota polisi memotong rambunya dan menyuruh dirinya memakan rambutnya sendiri. Ketika diperiksa dirinya tidak berhenti dipukul dan ditendang.

Agus Wondiwoi, (24 tahun), tukang Ojek, ditangkap 28 Pebruari 2014, beralamat di kampung Aitiri Distrik Menawi  menceritakan dirinya dipaksa merayap di dalam parit dan digiring menuju Polsek Menawi. Saat itu polisi  tidak berhenti membunyikan senjata mereka,“padahal saat itu tidak ada yang melakukan perlawanan, tidak ada penyerangan dan lain-lain.”

Menurutnya sesampai di Polsek dirinya dibanting, ditendang dan tidak berhenti dipukul, sempat dimasukan ke dalam ruang tahanan dan setelah 3 jam, kemudian dibawa dengan truk Dalmas ke Polres Kep Yapen.

“Di Polres saya disetrum, kepala saya ditutup kantong plastik sampai saya tidak dapat bernapas, saya ditoki dengan besi”.

Agus kemudian diperiksa mulai dari jam 16.00 hingga jam 23.00 malam hari. Polisi yang memeriksa membujuknya mengaku agar dirinya tidak dipukuli dan dapat dipulangkan.

Kasus Salmon Windesi dkk di Serui atau kasus yang dialami oleh 2 aktifis mahasiswa yakni Alfres Kapissa dan Yalli Wenda saat aksi Pembebasan Tapol/Napol di Waena(2 april 2014) adalah kasus yang baru. Sebelumnya kita juga mendengar beberapa kasus penyiksaan yang dialami oleh masyarakat sipil terutama yang dituduh melakukan kejahatan politik, melawan negara atau makar. Ketika mereka ditangkap, maka mereka mengalami beragam bentuk penyiksaan mulai dari penyiksaan phisik hingga penyiksaan dalam bentuk pembunuhan karakter.

Lihat saja kasus pembobolan gudang senjata Kodim Wamena tahun 2003, Kimanus Wenda, Linus Hiluka, Apot Holik Lokobal, Jafrai Murib,  Numbungga Telenggen dan (Alm) Mikail Haselo dan (Alm) Kanius Murib ketika ditangkap mereka dipukul, ditendang, tangan mereka diikat, mereka disekap dalam ruangan tertutup bahkan satu dari teman mereka meninggal di ruangan tahanan.

Demikian juga yang dialami Meki Elosak, Wiki Meage, Obeth Kosay dan Oscar Holago terpidana kasus Yalengga tahun 2010. Penyiksaan yang dialami Meki dkk tak banyak terungkap. Baru-baru ini muncul foto di jejaring media sosial saat mereka disiksa. Polres Jayawijaya melalui Surat Perintah Tugas nomor : Sprin/01/III/2014/Sipropam menugaskan 6 orang anggotanya untuk melakukan Penyelidikan dan Pemeriksaan terhadap Meki Elosak dan Wiki Meage.

Dihadapan penasehat hukumnya dari AlDP, saat dikunjungi setelah pemeriksaan tersebut Meki Elosak mengakui kejadian penyiksaan yang mereka alami. Mereka dihadang oleh pasukan kepolisian dari Bolakme kemudian dimasukan ke dalam selokan luas yang penuh lumpur lantas seperti seekor babi(maaf) mereka disuruh untuk berguling-guling dalam lumpur, duduk dan berguling kembali. Kemudian berpindah ke selokan yang agak kering. Batang hidungnya dipukul dengan popor senjata hingga patah. Meki mengatakan bahwa ada beberapa aparat yang merekam semua aksi tersebut.

Korban penyiksaan lainnya saat ditangkap adalah Philep Karma dan Yusak Pakage di kasus pengibaran bendera 1 desember 2004 di Lapangan Trikora juga Forkorus Yaboisembut dkk(ada 5 orang) pada peristiwa KRP III di lapangan Zakeus STFT pada 19 Oktober 2011. Isak Kalaibin dkk(ada 7 orang) untuk kasus Aimas tanggal 1 Mei 2013 dan beberapa kasus lainnya termasuk yang dialami oleh para aktifis gerakan.

Hingga kini praktek penyiksaan tetap dilakukan oleh aparat saat menangkap seorang yang dianggap melawan negara, tidak cukup menangkap mereka dengan jumlah pasukan yang banyak dan bersenjata lengkap. Dari kasus-kasus di atas dapat diketahui,  menangkap sambil estafet memberikan pukulan dan tendangan menjadi salah satu tradisi yang sulit dilewatkan. Begitupun ketika melakukan interogasi pertama kali setelah ditangkap. Sayangnya negara tidak pernah mempersoalkan buruknya penanganan yang dilakukan oleh aparat negara baik Polisi ataupun TNI.

Ironisnya, setelah itu biasanya yang menangkap, penyidik atau aparat polisi pada umumnya saling bertukar wajah, berubah ramah seperti hendak menolong(kemudian) padahal mereka yang sudah disiksa tentu saja tidak mudah menghapus penderitaan phisik dan psikis akibat penyiksaan yang mereka alami. Oleh karena itu jarak antara masyarakat dan pihak kepolisiaan atau TNI tidak pernah benar-benar terbukti dekat, walaupun diobati dengan dokter benaran setelah mereka disiksa ataupun melalui slogan-slogan ‘polisi sahabat rakyat’, ‘kami siap melayani’ atau dikemas dalam program Polmas(Polisi masyarakat), bakti sosial,pengobatan massal dan lain sebagainya.

Jika saja petinggi kepolisiaan atau TNI baik di daerah ataupun di pusat berargumentasi bahwa itu dilakukan karena ketika ditangkap Tersangka melawan, lantas mengapa itu menjadi trend dari setiap proses penangkapan?. Dilakukan dan terus dilakukan terhadap Tersangka yang menyerah, tidak berdaya atau bahkan sudah disiksa berkali-kali sebelumnya. Apalagi ketika polisi baru bereaksi setelah kasus penyiksaan itu terungkap di publik melalui foto atau rekaman video, lantas jika tidak terbongkar apakah praktek seperti itu akan dibiarkan?.

Indonesia telah meratifikasi Konvensi Menentang Penyiksaan  melalui UU No 5 Tahun 1998 pada 28 September 1998. Melalui UU ini Indonesia juga melakukan deklarasi terhadap ketentuan Pasal 20 ayat (1) ayat (2), dan ayat (3) serta melakukan reservasi terhadap ketentuan Pasal 30 ayat (1) dari konvensi ini.

Konvensi ini diadopsi oleh Sidang Majelis Umum PBB melalui resolusi 39/46 pada 10 Desember 1984 dan mulai berlaku pada 26 Juni 1987. Untuk menghormati konvensi ini setiap 26 Juni kemudian diperingati sebagai “International Day in Support of Torture Victims”.

Konvensi ini mewajibkan negara – negara pihak untuk mengambil langkah – langkah efektif  untuk mencegah penyiksaan terjadi di wilayahnya.Langkah ini dilakukan dalam bentuk legislasi, administrasi dan hukum dan yang terpenting diwujudkan dalam perilaku aparat negara atau aparat penegak hukum sebagai bagian dari wajah negara. Maka kita berharap aparat penegak hukum menjadi contoh untuk tidak melakukan praktek penyiksaan. Kesungguhan negara akan terus diuji terutama melalui kinerja aparat kepolisian, bukan dengan tangan besi, senjata besi dan hati besi tetapi dengan  kerja-kerja penanganan kasus yang lebih professional.(Andawat).