Penyaluran Raskin untuk Warga Obathrow Ditunda
Kawasan Tembok di Kota Sorong

Penyaluran Raskin untuk Warga Obathrow Ditunda

Merauke–Penyaluran beras untuk warga miskin di Kampung Obathrow, Distrik Jagebob, Merauke, ditunda. Akses jalan yang buruk menyebabkan pembagian raskin tersendat.

Selain Obathrow, ada juga kampung Blandin Kakayo, Jemunain Jaya, dan Melin Megikar yang belum mendapat jatah raskin. “Belum diantar, jalan rusak, pakai motor saja setengah mati, apalagi pakai truk,” kata Willem Sarobe, warga Distrik Jagebob, kemarin.

Bekas kepala sekolah SMK Jagebob itu mengatakan, empat kampung tersebut berjarak kurang lebih sejam dari Kota Distrik Jagebob. Kalau jalan rusak, perjalanan ke Obathrow bisa sangat lama. “Kalau hujan tidak ada yang berani kesana, jalan rusak parah, kalau mau tidur di jalan ya bisa saja,” ujarnya.

Pembagian raskin di Jagebob dimulai sejak pekan kemarin. Tiap kepala Keluarga mendapat jatah 15 kilogram. Untuk kampung Kartini, pusat kota Jagebob, pembagian dilakukan di kantor lurah setempat. “Sebenarnya soal raskin ini, banyak yang diperjualbelikan disini, hanya saja tidak terpantau,” katanya lagi.

Mulyono, warga Jagebob menambahkan, raskin sangat dibutuhkan masyarakat pedalaman. “Tidak semua orang punya sawah, jadi memang kita juga butuh raskin.”

Obathrow dan tiga kampung lainnya kini sedang dilanda kekurangan pangan. Warga hanya memakan seadanya untuk bertahan. Jalan rusak menjadi pemicu pasokan sulit dimasukan.

Sebelumnya, Johanes Gluba Gebze, mantan Bupati Merauke mengungkapkan sebagai daerah lumbung pangan, seharusnya Merauke yang mengekspor bukan mengimpor beras. “Sawah rusak, dan empat stok penyangga kita juga habis, ini menyebabkan rawan pangan, jadi salah kalau pemerintah sekarang bilang tidak ada rawan pangan,” kata Gebze.

Menurutnya, selain karena factor cuaca, ada oknum yang sengaja menjual beras Merauke ke luar daerah. “Mereka pikir stok kita bisa bertahan lama, jadi ada yang jual ke luar hingga puluhan ton, akhirnya kita sekarang kekurangan beras,” ucapnya.

Ia menyarankan agar pemerintah mengambil langkah cepat memperbaiki ketahanan pangan. “Kalau hujan terus bagaimana, kalau padi kelebihan air itu bahaya, jadi saya kira harus ada upaya selain mengimpor agar kita tidak kurang beras,” pungkasnya. (02/AlDP)