Penimbunan Pelabuhan Peti Kemas, Merusak Lingkungan

Penimbunan Pelabuhan Peti Kemas, Merusak Lingkungan

Jayapura-Keberatan keluarga Karel Demetouw bukan saja terhadap penimbunan laut di wilayah hak ulayat mereka, namun juga terhadap kerusakan lingkungan yang ditimbulkan akibat pengerukan material untuk penimbunan.

Kondisi ini terjadi di dusun pasir (Ukisi) letaknya sekitar 500 meter dari lokasi pelabuhan peti kemas. Dusun itu adalah tempat keluarga Demetouw menanam dan berkebun.

“Dulunya tempat berkebun masyarakat, ada pohon coklat, duku,rambutan dan sagu namun kini mengalami kerusakan dan disaat hujan lokasi ini terendam air,” katanya sambil menunjuk cekungan-cekungan basah diantara pohon-pohon tersebut.

Menurutnya, perusahaan yang melakukan penimbunan pelabuhan peti kemas, mengambil material dari dusun mereka, caranya dengan mengeruk gunung dimana sumber air berada.

“Seharusnya air jalan di sebelah sini,” katanya sambil menunjuk bebatuan di sekitar pohon-pohon. “Tapi karena material diambil dari atas, kolam kecil diatas jebol dan air mengalirmasukkedusun, tanamanjadirusak”.

Pengambilan material dilakukan sejak tahun 2008, setelah Karel melakukan protes, di tahun 2010 penimbunan dihentikan, hanya sayangnya dusun mereka terlanjur rusak. Beberapa pohon rambutan, coklat dan duku rusak dan mati.

Pemerintah pernah mencoba untuk memasang talu dkecil untuk membatasi air agar tidak masuk kedusun, namun setelah hujan talu dijebol dan tidak ada upaya lagi hingga sekarang.

“Kami ingin minta ganti rugi, sumber-sumber kehidupan kami menjadi rusak secara permanen, kami khawatir hujan Desember ini akan menghabiskan sisa-sisa tanaman yang masih ada,” katanya.

Kini keluarga Karel Demetouw mempercayakan AlDP untuk membantu mereka mendapatkan hak-hak yang semestinya.(Tim/AlDP)