Berita

Pengusuran Wilayah Adat Masyarakat Distrik Seget

Sorong-Pengusuran tanah di lokasi masyarakat adat distrik Seget yang dilakukan oleh  PT.Pelindo II Jakarta bertujuan untuk membangun pelabuhan kontainer kini menimbulkan kecaman dari  masyarakat yang kontra. Masih terjadi perdebatan diantara masyarakat dari dari 5 kampung yang pro dan kontra.  Awalnya keseluruhan masyarakat setuju karena informasinya untuk membangun pelabuhan kontainer, namun tersiar kabar bahwa bukan untuk pelabuhan kontainer melainkan  untuk membangun pangkalan marinir TNI AL.

“Aktifitas pembangunan jembatan sendiri sudah berjalan sejak 3 bulan belakangan ini,” Ucap wakil ketua II Dewan adat suku Morisigin,Otniel Maifun melalui telepon langsung ke kantor Aldp (12/05/2012). Ucapnya lagi,”Pengusuran masih tetap berlangsung walaupun masyarakat sudah melakukan pelarangan”.

Rencana pembangunan tersebut akan memakan wilayah seluas 750 hektar mengikuti panjang pinggir pantai sepanjang 15 kilometer. Adapun lokasi sepanjang 15 kilometer di pinggir pantai merupakan lokasi masyarakat untuk bertahan hidup sebagai nelayan. Proses ini tetap berlangsung dengan adanya dukungan sebagian masyarakat yang pro.Adapun ke- 5 kampung di distrik Seget terdiri dari kampung Wainabei, kampung Seget, kampung Wayengkedi, kampung Naibaibam dan kampung Kulayah.

Tegasnya lagi,”Pelarangan ini terjadi dimana masyarakat tidak menyetujui pembangunan pelabuhan pangkalan marinir dan penggusuran dilakukan tanpa menyediakan lokasi yang layak untuk masyarakat”. Otniel mulai menggalang dukungan dari berbagai untuk memperhatikan permasalahan di tempat mereka.

“Kami selaku pemimpin adat Wilayah Suku Morisigin  dalam waktu dekat kami akan menyampaikan peristiwa yang dirasakan oleh masyarakat distrik Seget  kepada Aliansi Demokrasi Untuk Papua ( ALDP ) dan lembaga lain seperti KontraS Papua dan lembaga-lembaga LSM lainnya untuk mendukung kami demi kenyamanan dan keamanan masyarakat,”ungkapnya. (03/AlDP)