Penduduk Selpele Dambakan Rumah Sehat

Anak-anak Selpele Bemain di Pasir

Raja Ampat – Penduduk Kampung Selpele, Distrik Waigeo Barat, Raja Ampat, Papua Barat, mendambakan bantuan rumah sehat. Rata-rata tempat tinggal mereka terbuat dari papan dan sudah berlubang.

“Rumah sudah banyak berlubang, seharusnya pemerintah tiap minggu turun kemari, jangan tinggal di kota saja,” kata Nikanor Ayello, Kepala Kampung Selpele, baru-baru ini.

Kondisi Kampung Selpele bertolak belakang dengan hebohnya Raja Ampat sebagai daerah wisata paling indah di dunia. Meraup untung miliaran rupiah pertahun dari sektor pariwisata, Raja Ampat ternyata belum mampu mengangkat rakyatnya hidup sejahtera. “Kalau bisa dibangun perumahan untuk kami, memang butuh kerja keras mendatangkan bahan dari kota, perlu biaya besar, tapi saya kira bisa kalau pemerintah ada niat,” kata Nikanor.

Kampung Selpele memiliki 87 Kepala Keluarga. Panjang kampung 200 meter, terletak dibibir pantai. Ditengah kampung terdapat sebuah gereja, Kristen Injili di Tanah Papua. Orang Selpele masuk dalam Klasis Raja Ampat Utara, Jemaat Laharoi Selpele. Warga Selpele berprofesi rata-rata nelayan dan buruh di sebuah perusahaan budidaya mutiara milik seorang pengusaha asing di Waigeo.

Untuk mencapai kampung ini, seorang pelancong harus merogoh kocek begitu besar. Sekali jalan, sebesar Rp20 juta. Biaya itu untuk menyewa sebuah kapal cepat atau speedboat. Untuk tarif murah, pelancong dapat menggunakan long boat atau perahu murah dengan sehari perjalanan. Harganya sekitar Rp1 juta. Hanya saja, jika musim ombak seperti sekarang, siap-siaplah untuk terbalik dan berenang di laut.

Kampung Selpele ditempati sub Suku Kawe dari Suku besar Maya. Kehidupan mereka sangat sederhana. Para pria saban hari melaut dan mencari ikan. Sementara wanita mengurus anak dan dapur. Di waktu senggang, ibu-ibu Selpele memanfaatkan waktu dengan membuat Senat atau tikar yang terbuat dari Kulit Sagu.

Pohon Sagu yang sudah diambil kulitnya, dipotong membentuk batangan kecil pipih seperti bambu halus. Potongan jadi dijemur beberapa hari sampai benar-benar mengeras. Selanjutnya, masing-masing batang kurang lebih satu meter dianyam. Ditautkan satu dengan yang lain hingga dapat dipakai sebagai alas tidur dan istirahat. Kerajinan khas ini juga dikerjakan penduduk di kampung Salio yang didiami Suku Kawe. “Kehidupan kami dari dulu begini, mau ke kota juga butuh biaya besar, kebanyakan tinggal di kampung saja,” kata Nikanor.

Ia berharap dinas terkait menyerap aspirasi mereka dan meninjau pemukiman orang Kawe di Selpele. “Datang lihat sendiri, bagaimana banyak rumah sudah rusak, kita tinggal dekat pantai, jadi kalau ombak besar, rumah bisa roboh,” ujarnya. (02/ALDP)