Berita

Pendidikan Raja Ampat Memprihatinkan

Pulau Waigeo

Raja Ampat–Kondisi pendidikan di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, memprihatinkan. Beberapa sekolah tidak memiliki guru dan ruang kelas memadai.

“Padahal kita tinggal di Kabupaten yang ada banyak uang, tapi untuk membangun pendidikan saja, setengah mati,” kata Sayid, Warga Raja Ampat, kemarin. Buruknya sekolah dan proses belajar mengajar, disebabkan aparat birokrasi tidak serius bekerja. “Ada banyak uang dikorupsi, kalau seperti itu, bagaimana mau membangun pendiikan yang baik,” ujarnya.

Dengan kondisi pendidikan ‘setengah hati’, Conservation International dan The Nature Conservancy akhirnya bekerja sama untuk pendidikan anak-anak di Raja Ampat. Diluncurkanlah sebuah kapal bernama Kalabia untuk membantu anak di pulau-pulau berhitung dan membaca.

Kapal berukuran panjang 32 meter itu menampung 24 penumpang termasuk 8 awak kapal. Kalabia sendiri adalah nama lokal untuk jenis ikan hiu endemik Papua Utara “walking shark.” (ikan ini berjalan di tanah dengan siripnya), yang merupakan jenis baru dari genus Hemiscylliidae.”

Kapal tersebut telah menghabiskan seluruh waktunya untuk berkeliling di Raja Ampat yang memiliki 88 kampung. Setiap tiga hari ada sekitar 30 siswa berpartisipasi di atasnya. Didalam kapal, disediakan sarana belajar, dilengkapi dengan dua sampan yang dapat digunakan untuk membawa anak-anak snorkling dan menjangkau kawasan hutan bakau. “Selain itu, di dalam kapal juga ada perpustakaan serta peralatan audio dan video untuk keperluan pembelajaran. Sayangnya kapal ini sementara dok, namun program Berlayar Sambil Belajar tidak hilang, kita jalan terus,” kata Koordinator Humas dan Penjangkauan Conservation International (CI) Indonesia, Abraham Goram.

Albert Nebore, Program Manager CI di Raja Ampat mengatakan, Program pendidikan Lingkungan di Kapal Kalabia diarahkan untuk membentuk perubahan perilaku yang pro kepada konservasi. “Anak-anak merupakakan target jangka panjang apabila kita hendak membicarakan isu perubahan perilaku konservasi bagi ketersediaan sumber-sumber alam secara berkelanjutan,” paparnya.

Raja Ampat sendiri beribukota di Waisai. Kabupaten ini memiliki 610 pulau. Empat di antaranya, yakni Pulau Misool, Salawati, Batanta dan Waigeo. Dari seluruh pulau hanya 35 pulau yang berpenghuni, sedangkan pulau lainnya kosong.

Sebagai daerah kepulauan, satu-satunya transportasi antar pulau adalah angkutan laut. Demikian juga untuk menjangkau Waisai, ibu kota kabupaten. Sarana transportasi yang tersedia disana salah satunya adalah kapal cepat berkapasitas 10, 15 atau 30 orang.

Berdasarkan sejarah, Kepulauan Raja Ampat memiliki empat kerajaan tradisional, masing-masing adalah kerajaan Waigeo, dengan pusat kekuasaannya di Wewayai, pulau Waigeo. Kemudian kerajaan Salawati, dengan pusat kekuasaan di Samate, pulau Salawati Utara. Kerajaan Sailolof dengan pusat kekuasaan di Sailolof, pulau Salawati Selatan, dan kerajaan Misol, dengan pusat kekuasaan di Lilinta, pulau Misool. (02/AlDP)

  • febry paparang, spd

    Sbg guru sy sangat prihatin dg dunia pendidikan disana…sy siap k sna jika memungkinkan….thx, majulah raja ampat

  • febry paparang, spd

    Sbg seorg guru, sy sgt prihatin dg keadaan pendidikan di sna, jk mgkn sy siap mengabdi di raja ampat sbg tenaga guru….bgktlah raja ampat….trims