Pendidikan di Mindiptana Macet

Pendidikan di Mindiptana Macet

Boven Digoel – Masalah pendidikan di wilayah pedalaman Papua tak pernah usai. Di Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel, sejumlah sekolah tak memiliki guru dan sarana belajar lengkap.

“Pendidikan tidak jalan. Di Kampung Umap, dan Imko, tidak ada proses belajar sampai sekarang,” kata Fransiskus Komon, Kepala Distrik Mindiptana, pekan kemarin.

Ia mengatakan, hanya ada satu atau dua guru di sekolah Kampung Wanggatkibi, Kakuna, dan Tinggam. Kepala sekolah merangkap sebagai guru kelas. “Ada tiga SD juga di Mindiptana berjalan tapi kurang guru, akibatnya kadang murid pulang lebih awal. Misalnya SD Inpres Mindiptana hanya 4 guru, SD YPPK Mindiptana, 5 guru dan SD Oskam Mindiptana 5 guru,” ujarnya.

Untuk Sekolah Menengah Pertama dan Atas, kata Komon, terdapat bidang studi yang masuk Ujian Akhir Nasional namun tak ada gurunya. “Kita mau bilang berjalan tapi tidak juga. Semua guru ini dirangkap oleh kepala sekolah SMK,” kata dia. Ironisnya, SMK Pertanian Mindiptana yang memiliki bangunan megah, hanya mempunyai satu guru. “Guru itu diperbatukan dari tenaga distrik yang lulusan SPMA” kata Komon.

Menurutnya, tidak seharusnya persoalan pendidikan di daerah pedalaman berlarut-larut. “Anak butuh belajar, mereka adalah tulang punggung bangsa, kalau dibiarkan begitu, orang Papua tetap akan dibilang tak mampu, sementara yang salah disini adalah pemerintah,” katanya.

Ia menambahkan, minat belajar anak di Mindiptana sangat tinggi. sayangnya itu tak dibarengi dengan ketersediaan ruang yang cukup menimba ilmu. “Kalau sekolah bagus, guru dan sarana belajar lengkap, pasti anak-anak dari kampung tidak kalah sama anak kota,” katanya.

Fabianus Senfahagi, Tokoh Masyarakat Auyu mengungkapkan, retaknya pendidikan di Boven Digoel disebabkan oleh masalah sturtural pemerintahan. “Ada sesuatu dalam tubuh birokrasi, kepala dinas dipasang tapi tidak bekerja, ditambah lagi orang nomor satu dipenjara, mau jadi apa daerah ini.”

Ia menyarankan agar pemerintah pusat segera menetapkan pejabat definitif Boven Digoel sehingga dapat memperbaiki berbagai masalah di daerah itu. “Kalau dibiarkan begini, tidak akan selesai, jangan bikin pembiaraan di kabupaten ini,” pungkasnya. (02/ALDP)